Krumpyung, Harmoni Bambu Langka dari Desa Langgar

Kesenian Krumpyung dari Desa Langgar, Kejobong, Purbalingga menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia pada tahun 2020
Kesenian Krumpyung berasal dari istilah Jawa kemprumpyung yang bermakna suara harmonis serta memikat hati.
Musik tradisional ini mengandalkan perpaduan angklung bambu wulung, gong bumbung, kendang ciblon, dan ketipung.
Saat ini, hanya masyarakat Desa Langgar di Purbalingga yang masih melestarikan seni khas Banyumasan tersebut.
Instrumen angklung menjadi pemain utama dalam setiap pementasan.
Uniknya, tiga penabuh memainkan angklung secara bersamaan sebagai panuthuk, panerus, dan oglong.
Gaya bermain ini menghasilkan suara gaduh yang merdu khas goyangan bambu.
Kelompok seni ‘Sri Rahayu’ pimpinan Ki Sulemi merupakan satu-satunya kelompok aktif saat ini.
Sejarah mencatat Dalang Rosidi memprakarsai kesenian ini sekitar tahun 1950 sebelum menyerahkan tongkat estafet kepada generasi berikutnya.
Pertunjukan biasanya berlangsung mulai siang hingga dini hari dalam jangka waktu setahun sekali.
Acara ini mencakup bagian sakral, estetis, serta hiburan bagi penonton.
Masyarakat kerap menanggap Krumpyung untuk upacara ruwat bumi atau ruwat desa.
Selain itu, pementasan juga mengiringi ritual potong rambut pada acara ruwat dukun bayi.
Kesenian ini juga mengiringi syukur atas pembangunan jalan, jembatan, hingga rumah baru.
Kehadiran musik bambu tersebut memperkuat ikatan sosial serta spiritual warga setempat.
Melalui keteguhan Ki Sulemi, tradisi kuno ini tetap eksis menghadapi tantangan zaman.
Braen, Seni Magis dari Tanah Perdikan Cahyana

Kesenian Braen dari Purbalingga resmi menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2021.
Sejarah kesenian Braen berpangkal pada sosok Eyang Makhdum Husen, ulama besar sekaligus Raja Cahyana pertama di Purbalingga.
Legenda setempat mengisahkan lahirnya strategi batin melalui syair dan tabuhan rebana guna menghalau serangan Kerajaan Pajajaran.
Suara rebana tersebut menciptakan dengungan magis serupa ribuan lebah yang memukul mundur musuh secara nyata.
Istilah “Braen” merujuk pada kata bahasa Arab Baroghin yang berarti argumen, atau Birai yang melambangkan kerinduan membara kepada Sang Khalik.
Saat ini, masyarakat mementaskan Braen dalam acara khidmat seperti khitanan, pernikahan, maupun selamatan desa.
Kelompok seniman biasanya duduk melingkar sambil menabuh terbang berbagai ukuran.
Menariknya, kaum perempuan di Desa Rajawana memegang peranan kunci dalam melestarikan tradisi ini.
Para penampil melantunkan sekitar 125 syair warisan secara bergantian.
Pola vokal tersebut terdiri atas penyanyi utama serta kelompok penyahut.
Lirik lagu mengambil referensi dari kitab Barzanji atau selawat Nabi dengan selipan nasihat moral bahasa Jawa.
Kini, pemerintah menetapkan Braen sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google Berita













