Enam Warisan Budaya Takbenda Khas Purbalingga, Ada Braen dan Manongan

Kementerian Kebudayaan RI menetapkan Manongan, seni tradisi khas Kabupaten Purbalingga, sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia tahun 2026
Kementerian Kebudayaan RI menetapkan Manongan, seni tradisi khas Kabupaten Purbalingga, sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia tahun 2026

Nopia, Warisan Gastronomi Banyumas Menuju Panggung Nasional

Nopia Warisan Budaya Tak Benda Oleh-Oleh Khas Purbalingga
Nopia Warisan Budaya Tak Benda Oleh-Oleh Khas Purbalingga

Makanan Nopia Purbalingga menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia dari Purbalingga pada bulan Oktober 2021.

Sejarah Nopia bermula pada tahun 1940 dengan varian rasa brambang goreng yang legendaris.

Seiring tuntutan pasar, perajin terus melakukan inovasi hingga melahirkan aneka rasa kekinian.

Pembuatan nopia memerlukan dua komponen utama. Bagian kulit menggunakan campuran terigu, susu, dan margarin.

Sementara itu, bagian isi memadukan terigu, susu, gula merah, margarin, serta minyak nabati.

Bacaan Lainnya
Kartini 21 April 2026

Pilihan rasa berasal dari bahan alami berkualitas.

Selain buah, tersedia pula pilihan rasa cokelat dan tetap mempertahankan rasa original brambang goreng.

Pangan tradisional ini mencerminkan kearifan lokal serta nilai sejarah lintas generasi.

Upaya pelestarian membutuhkan ekosistem kuat yang melibatkan elemen masyarakat luas.

Dukungan Kementerian Kebudayaan menjadi sangat krusial dalam memperkuat identitas budaya daerah.

Langkah ini bertujuan menjaga warisan gastronomi agar tetap eksis bagi generasi mendatang.

Sinergi antara pemerintah dan perajin memastikan nopia tetap menjadi ikon budaya yang membanggakan.

Tari Dames, Seni Tradisional Purbalingga Simbol Syiar Islam

Tarian Dames ini pertama kali muncul sekitar tahun 1936, jauh sebelum masa Kemerdekaan Indonesia.
Tarian Dames ini pertama kali muncul sekitar tahun 1936, jauh sebelum masa Kemerdekaan Indonesia.

Kesenian Dames dari Purbalingga menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada tahun 2023

Tari Dames atau Tari Aplang merupakan kesenian tradisional Purbalingga yang bermula sejak masa penyebaran Islam.

Para wali menggunakan syair bernilai Islami serta budaya lokal sebagai media dakwah yang efektif.

Tarian Dames ini pertama kali muncul sekitar tahun 1936, jauh sebelum masa Kemerdekaan Indonesia.

Istilah Dames berasal dari bahasa Belanda yang merujuk pada sosok gadis atau perempuan lajang.

Delapan penari perempuan memerankan tarian ini sebagai simbol filosofis delapan penjuru mata angin.

Para penari tampil unik dengan atribut khusus berupa kaos kaki dan kacamata hitam.

Iringan alat musik tradisional seperti rebana, bedhug, serta kendhang menciptakan harmoni yang khas.

Gerakan para penari mengikuti ritme musik yang dinamis namun tetap anggun.

Kombinasi elemen visual dan suara ini menjadi daya tarik utama bagi penonton.

Kesenian ini sempat mengalami masa vakum yang cukup lama.

Namun, pada tahun 1950, Ki Sumareja membangkitkan kembali Tari Dames melalui Desa Padamara.

Upaya tersebut memicu perkembangan signifikan pada tata rias, busana, hingga variasi gerakan iringan.

Transformasi seni ini terus berlanjut guna menyesuaikan perkembangan zaman tanpa menghilangkan identitas aslinya.

Masyarakat setempat terus menjaga eksistensi Tari Dames sebagai warisan sejarah yang membanggakan.

Kini, generasi muda mulai aktif mempelajari tarian ini demi menjaga kelestarian budaya daerah.

Manongan Seni Tradisi Langka dari Desa Panusupan

Secara filosofis, istilah Manongan berakar dari bahasa Sanskerta manon yang berarti melihat atau mengetahui.
Secara filosofis, istilah Manongan berakar dari bahasa Sanskerta manon yang berarti melihat atau mengetahui.

Kementerian Kebudayaan RI menetapkan Manongan, seni tradisi khas Kabupaten Purbalingga, sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia tahun 2026

Kesenian Manongan merupakan seni tradisi langka yang berasal dari Dusun Candi, Desa Panusupan, Kecamatan Rembang.

Saat ini, hanya satu kelompok bernama Cahyana Gilar yang masih aktif melestarikannya.

Para pelaku seni yang mayoritas berusia lanjut menjadikan kesenian ini membutuhkan perhatian serius, terutama terkait revitalisasi.

Secara filosofis, istilah Manongan berakar dari bahasa Sanskerta manon yang berarti melihat atau mengetahui.

Makna tersebut merujuk pada Hyang Manon atau Tuhan Maha Mengetahui.

Dahulu, masyarakat melaksanakan tradisi ini sebagai bagian dari prosesi memasuki kehidupan berumah tangga.

Seiring waktu, fungsinya berkembang menjadi pertunjukan seni budaya yang lebih luas.

Keunikan Manongan terlihat dari ritual sebelum pertunjukan, yakni kewajiban para pelaku berziarah ke makam leluhur di Candipura.

Selain itu, pemain mematuhi pantangan agar tidak menghadap ke timur sebagai bentuk penghormatan.

Syair lagu yang mengiringi pun sarat makna kehidupan dan religius, yang konon hadir melalui mimpi.

Kesenian ini hanya berkembang di Dusun Candi dan tidak muncul di daerah lain.

Pertunjukan melibatkan kombinasi vokal serta gerak dengan dukungan empat pemain rebana, satu pemain kendang, satu pemain bendhe, satu pemain gong bumbung, serta empat atau lima vokalis.

Pos terkait

Kartini 21 April 2026