Tari Dames Purbalingga WBTB Indonesia, Simbol Filosofis Delapan Penjuru Mata Angin

Tarian Dames ini pertama kali muncul sekitar tahun 1936, jauh sebelum masa Kemerdekaan Indonesia.
Tarian Dames ini pertama kali muncul sekitar tahun 1936, jauh sebelum masa Kemerdekaan Indonesia.

TABLOIDELEMEN.com – Kesenian Dames asal Purbalingga resmi menyandang status Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia pada tahun 2023.

Tari Dames atau Tari Aplang merupakan kesenian tradisional yang bermula sejak masa penyebaran Islam di tanah Jawa.

Para wali menggunakan syair bernilai Islami serta budaya lokal sebagai media dakwah yang sangat efektif bagi masyarakat.

Tarian ini pertama kali muncul sekitar tahun 1936, jauh sebelum masa Kemerdekaan Indonesia.

Istilah Dames berasal dari bahasa Belanda yang merujuk pada sosok gadis atau perempuan lajang.

Bacaan Lainnya
Milo

Delapan penari perempuan memerankan tarian ini sebagai simbol filosofis delapan penjuru mata angin yang penuh makna kehidupan.

Para penari tampil unik dengan atribut khusus berupa kaos kaki dan kacamata hitam.

Iringan alat musik tradisional seperti rebana, bedhug, serta kendhang menciptakan harmoni yang sangat khas.

Gerakan para penari mengikuti ritme musik yang dinamis namun tetap menunjukkan sisi anggun seorang perempuan.

Kombinasi elemen visual dan suara ini menjadi daya tarik utama bagi para penonton dalam setiap pementasan.

Kebangkitan Seni Tradisi

Kesenian ini sempat mengalami masa vakum yang cukup lama dalam perjalanan sejarahnya.

Namun, pada tahun 1950, Ki Sumareja membangkitkan kembali Tari Dames melalui Desa Padamara secara konsisten.

Upaya tersebut memicu perkembangan signifikan pada tata rias, busana, hingga berbagai variasi gerakan iringan yang lebih modern.

Transformasi seni ini terus berlanjut guna menyesuaikan perkembangan zaman tanpa menghilangkan identitas aslinya.

Masyarakat Purbalingga terus menjaga eksistensi Tari Dames sebagai warisan sejarah yang sangat membanggakan daerah.

Kini, generasi muda mulai aktif mempelajari tarian ini demi menjaga kelestarian budaya daerah agar tetap abadi.

Pos terkait

Milo