Braen Purbalingga, WBTB Indonesia Perlambang Kerinduan kepada Sang Khalik

Sejarah kesenian Braen berpangkal pada sosok Eyang Makhdum Husen, ulama besar sekaligus Raja Cahyana pertama di Purbalingga.
Sejarah kesenian Braen berpangkal pada sosok Eyang Makhdum Husen, ulama besar sekaligus Raja Cahyana pertama di Purbalingga.

TABLOIDELEMEN.com – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan kesenian Braen asal Purbalingga sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia pada tahun 2021.

Sejarah kesenian ini berpangkal pada sosok Eyang Makhdum Husen, ulama besar sekaligus Raja Cahyana pertama.

Legenda setempat mengisahkan lahirnya strategi batin melalui syair dan tabuhan rebana guna menghalau serangan Kerajaan Pajajaran masa lampau.

Suara rebana tersebut menciptakan dengungan magis serupa ribuan lebah yang sanggup memukul mundur musuh secara nyata.

Istilah “Braen” merujuk pada kata bahasa Arab Baroghin yang berarti argumen, atau Birai sebagai perlambang kerinduan membara kepada Sang Khalik.

Bacaan Lainnya
Milo

Saat ini, masyarakat mementaskan Braen dalam acara khidmat seperti khitanan, pernikahan, maupun selamatan desa.

Kelompok seniman biasanya duduk melingkar sambil menabuh terbang berbagai ukuran dengan penuh semangat.

Menariknya, kaum perempuan di Desa Rajawana memegang peranan kunci dalam upaya melestarikan tradisi luhur ini.

Para penampil melantunkan sekitar 125 syair warisan secara bergantian demi menjaga kemurnian pesan leluhur.

Pola vokal tersebut terdiri atas penyanyi utama serta kelompok penyahut yang saling bersahutan harmonis.

Syiar Lewat Syair

Lirik lagu mengambil referensi dari kitab Barzanji atau selawat Nabi dengan selipan nasihat moral bahasa Jawa.

Perpaduan unsur religi dan budaya lokal membuat kesenian ini tetap relevan bagi kehidupan sosial masyarakat saat ini.

Penetapan status warisan budaya nasional menjadi langkah penting dalam memproteksi kekayaan intelektual daerah.

Kehadiran Braen membuktikan bahwa seni tradisional mampu bertahan melintasi berbagai zaman dan tantangan modernisasi.

Dukungan penuh dari pemerintah serta generasi muda sangat krusial agar gema rebana terus terdengar.

Upaya ini memastikan identitas budaya Purbalingga tetap lestari dan mengakar kuat dalam sanubari warga.

Pos terkait

Milo