Mengenal Manongan Kesenian Langka dan Sakral Warisan Budaya Takbenda Indonesia Asal Desa Panusupan

Tradisi Kesenian Manongan Panusupan ini muncul sejak tahun 1945 atau bahkan lebih awal sebagai perpaduan nilai Islam dan Hindu dalam konteks budaya lokal.
Tradisi Kesenian Manongan Panusupan ini muncul sejak tahun 1945 atau bahkan lebih awal sebagai perpaduan nilai Islam dan Hindu dalam konteks budaya lokal.

TABLOIDELEMEN.com – Kesenian Manongan Panusupan merupakan seni ritual unik yang hanya masyarakat temukan pada wilayah Desa Panusupan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga.

Tradisi  ini muncul sejak tahun 1945 atau bahkan lebih awal sebagai perpaduan nilai Islam dan Hindu dalam konteks budaya lokal.

Saat ini, hanya kelompok Cahyana Gilar yang masih aktif menjaga kelestarian warisan budaya tersebut agar tetap eksis.

Kondisi pelaku seni yang mayoritas telah berusia lanjut memicu perlunya perhatian serius bagi semua pihak.

Aspek regenerasi serta revitalisasi menjadi poin utama guna menjamin masa depan kesenian ini.

Bacaan Lainnya
Kartini 21 April 2026

Secara filosofis, istilah Manongan berasal dari bahasa Sanskerta manon yang berarti melihat atau mengetahui.

Makna tersebut merujuk pada Hyang Manon atau Tuhan Maha Mengetahui sebagai pusat spiritualitas.

Dahulu, masyarakat melaksanakan tradisi ini saat memasuki jenjang pernikahan sebagai bekal kehidupan berumah tangga.

Namun, kini fungsinya meluas menjadi pertunjukan seni budaya yang memikat banyak pengunjung.

Keunikan Manongan tampak jelas pada ritual pra-pertunjukan melalui kewajiban berziarah ke makam leluhur Candipura.

Selain itu, para pemain mematuhi pantangan posisi menghadap timur sebagai bentuk penghormatan tertinggi bagi leluhur.

Syair lagu yang mengiringi pertunjukan pun sarat makna religius serta pesan kehidupan yang konon hadir melalui mimpi.

Kesenian unik ini hanya berkembang secara eksklusif pada lingkungan Dusun Candi saja.

Pertunjukan tersebut memadukan vokal dan gerak dengan iringan empat pemain rebana, satu pemain kendang, satu pemain bendhe, serta satu pemain gong bumbung.

Empat hingga lima vokalis turut memperkuat harmonisasi sajian seni yang penuh nuansa magis tersebut.

Ritual Sakral Menjelang Bulan Suro

Sajian visual pertunjukan ini menggambarkan kisah tragis seorang putri yang kehilangan suaminya akibat perang.

Nama Manongan sendiri mengandung arti berserah diri kepada Sang Pencipta dalam segala kondisi.

Manongan bukan sekadar hiburan, melainkan ritual sakral yang memuat simbol perjalanan hidup manusia sejak lahir hingga mati.

Pelaksanaan pertunjukan berlangsung pada malam hari, khususnya saat bulan Suro, mulai pukul 21.00 hingga menjelang subuh pukul 04.00.

Puncak ritual terjadi ketika seorang peserta mengalami kondisi mendem atau kerasukan roh leluhur.

Hal tersebut menjadi pertanda prosesi suci sedang berlangsung.

Manongan memiliki sifat sangat lokal dan sakral sehingga masyarakat tidak boleh mementaskan kesenian ini secara sembarangan.

Melalui kekhasan dan nilai filosofis mendalam, Manongan menjadi identitas budaya penting bagi warga Purbalingga.

Upaya mewariskan tradisi ini kepada generasi mendatang tetap menjadi prioritas utama guna memastikan keberlangsungan sejarah lokal yang luhur.

Pos terkait

Kartini 21 April 2026