Rupiah Sentuh Rekor Terendah Hingga Level Rp17.865 Per Dolar Amerika Serikat

Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan pekan ini pada zona merah terhadap dolar Amerika Serikat (AS)
Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan pekan ini pada zona merah terhadap dolar Amerika Serikat (AS)

TABLOIDELEMEN.com – Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan pekan ini pada zona merah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Sabtu 30 Mei 2026.

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda parkir pada level terendah sepanjang masa terbaru, yaitu Rp17.865/US$ atau terdepresiasi 0,51 persen.

Kemerosotan tersebut sekaligus memperpanjang tren koreksi mata uang nasional selama lima hari perdagangan beruntun.

Sepanjang sesi, rupiah bergerak fluktuatif pada rentang Rp17.800/US$ hingga Rp17.885/US$, mendekati level psikologis baru Rp17.900/US$.

Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) per pukul 15.00 WIB menguat tipis 0,05 persen menuju level 99,066.

Bacaan Lainnya
Milo

Menyikapi fenomena ini, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian menilai rupiah tengah mengalami fase overshooting.

Kondisi tersebut merujuk pada situasi ketika pelemahan bergerak lebih dalam daripada fundamental jangka panjang Indonesia.

Menurutnya, gejolak ini mencerminkan cara pasar membaca kombinasi tekanan global, arah kebijakan domestik, serta kejelasan proses penyesuaian ekonomi.

“Pasar keuangan tidak hanya membaca data hari ini. Pasar membaca arah kebijakan, kredibilitas respons, dan kemampuan negara menjaga stabilitas di tengah perubahan global yang sangat cepat,” kata Fakhrul

Fakhrul menjelaskan bahwa rupiah kini memikul titik penyesuaian utama dari berbagai tekanan yang seharusnya tersebar ke banyak sektor.

Dalam situasi normal, kenaikan harga energi global bakal memicu tekanan pada inflasi, fiskal, hingga harga domestik.

Namun, akibat kebijakan domestik yang sangat hati-hati demi mengawal stabilitas sosial dan daya beli, beban tekanan akhirnya bertumpu pada rupiah.

Dari faktor eksternal, pergerakan dolar AS pada pasar global tetap menyita perhatian.

Mata uang Negeri Paman Sam tersebut bergerak cukup hati-hati seiring meredanya permintaan terhadap aset aman (safe haven).

Hal ini menyusul munculnya optimisme baru terkait potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.

Pos terkait

Milo