TABLOIDELEMEN.com – Nilai tukar rupiah berhasil bangkit melawan dolar Amerika Serikat (AS) setelah tertekan selama beberapa hari terakhir.
Data Bloomberg mencatat rupiah pasar spot menyentuh level Rp 18.058 per dolar AS pada Selasa 9 Juni 2026 menguat 0,72% dari hari sebelumnya yang berada pada posisi Rp 18.188 per dolar AS.
Terlihat dalam kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia membaik ke angka Rp 18.141 per dolar AS dari posisi semula Rp 18.171 per dolar AS.
Meredanya konflik Timur Tengah menjadi faktor utama yang memicu penguatan mata uang Garuda.
Pelaku pasar menyambut positif pernyataan Iran dan Israel terkait penghentian serangan menyusul dorongan diplomatik Presiden AS Donald Trump.
Situasi kondusif ini sukses mengikis kekhawatiran pelaku pasar atas potensi gangguan pasokan energi global via Selat Hormuz.
Pasar merespons positif pernyataan Iran dan Israel yang mengindikasikan penghentian serangan satu sama lain setelah adanya dorongan diplomatik dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Selain sentimen global, langkah strategis dalam negeri turut memperkokoh posisi rupiah. Pemerintah saat ini merancang paket stimulus ekonomi demi memayungi daya beli masyarakat.
Bank Indonesia pun mempererat koordinasi bersama pemerintah guna mengawal stabilitas makroekonomi sekaligus memupuk kepercayaan investor asing.
Meski demikian, pelaku pasar masih mengantisipasi rilis data inflasi AS berupa Indeks Harga Konsumen (CPI) mendatang.
Angka inflasi yang tinggi berpotensi menunda pemangkasan suku bunga Federal Reserve, sehingga berpeluang menyokong kebangkitan dolar AS.
Mempertimbangkan dinamika tersebut, pergerakan rupiah pada Rabu 10 Juni 2026 berpotensi bergulir pada rentang Rp 18.050 hingga Rp 18.100 per dolar AS.

Bagi saya yang juga seorang ibu rumah tangga, menulis dapat dijadikan media terapi. Berbagi cerita, mengungkapkan emosi, meredakan stres, dan melepaskan kebosanan.
Baca update artikel lainnya di Google News













