TABLOIDELEMEN.com – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemalang mencetuskan ide segar pada tahun 2012 dengan menyatukan empat kesenian tradisional menjadi satu pertunjukan utuh bernama Silakupang.
Nama tersebut merupakan akronim dari Sintren, Laes, Kuntulan, dan Kuda Kepang.
Gabungan unik ini mementaskan cerita Jawa klasik mengenai kisah cinta beda status antara Sulasih dan Raden Sulandana yang terhalang restu orang tua.
Pertunjukan karya Sanggar Srimpi, Desa Ujunggede, Ampelgading ini mengawali pentas lewat penampilan Kuda Kepang.
Seorang pawang membawa cambuk memimpin enam penari berkuda anyaman bambu dengan gerakan patah-patah yang sangar.
Selaras dengan pergantian babak, penari Kuntulan berkostum putih masuk membawakan gerakan silat artistik beriringan rebana, bedug, serta salawat.
Suasana berubah total saat penari Kuntulan mengenakan kacamata hitam guna menjadi dayang-dayang Sintren.
Sebuah kurungan kain emas menandai masuknya penari Sintren perempuan yang wajib perawan agar roh bidadari berkenan hadir.
Alunan lagu pemanggil roh mengubah penari Kuda Kepang menjadi sosok Sulandana yang mengajak penari Sintren menari bersama dalam kondisi tidak sadar.
Satukan Empat Kesenian Tradisional
Setelah itu, muncul penari Laes laki-laki yang melakukan akrobat di atas tali sebagai simbol Sulandana keluar dari pertapaan.
Guna meruntuhkan batas dengan penonton, Sanggar Srimpi menyisipkan unsur tayub sehingga penari bisa turun panggung dan mengajak pemirsa menari bersama.
Pertunjukan berakhir saat penari Kuntulan mengusir roh bidadari hingga penari sadar kembali, lalu membentuk formasi kereta kencana.
Secara keseluruhan, tarian pesisir ini memiliki 38 macam gerakan dengan tempo cepat.
Durasi festival sengaja mengalami pemangkasan menjadi 7 menit dari versi asli demi kebutuhan lomba nasional.
Keunikan lain terletak pada kostum modular yang memungkinkan penari berganti karakter dalam hitungan detik tanpa perlu meninggalkan panggung.
Alumni ISI Yogyakarta, Budiono, merancang musik pengiring khusus untuk mahakarya ini. Ia menciptakan “Tembang Silakupang” berbirama 2/4 dengan lirik:
“Silakupang seni tradisional / Luwes gerakane, gagah tariane / Sintren, Laes, Kuntulan, Kuda Kepang / Ayo padha gen uri-uri.”
Selain itu, ia juga menggubah lagu “Lir-Ilir Silakupang” menggunakan laras pelog pada gamelan slendro sebagai bentuk inovasi yang tidak biasa.
Selain aktif mementaskan seni, Sanggar Srimpi juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan tari bagi generasi muda.
Mereka membagi siswa ke dalam tiga tingkatan, yaitu Kelas A (usia 5-8 tahun) mempelajari Tari Burung.
Sedangkan Kelas B (usia 9-12 tahun) mendalami Bangau, Kuntulan, serta Kelas C (usia 13-18 tahun) menguasai Denok Pemalang.

Satu di antara cara untuk mendapatkan hasil menulis yang maksimal adalah dengan melihatnya sebagai sebuah petualangan.
Hanya dengan berpetualangan, saya mengetahui dan menemukan keberagaman materi tulisan.
Baca update artikel lainnya di Google Berita

















