Purbaya Pastikan Utang Pemerintah Aman dan Rasio PDB Menurun

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa

TABLOIDELEMEN.com – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa memastikan posisi utang pemerintah saat ini masih berada dalam batas yang sangat aman serta berjalan secara hati-hati.

Keberhasilan menjaga rasio utang Indonesia pada kisaran 40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) turut mencerminkan kredibilitas kebijakan fiskal nasional.

“Posisi utang pemerintah saat ini masih berada dalam batas yang sangat aman dan terkelola dengan penuh kehati-hatian atau prudence,” tegas Purbaya.

Selaras dengan hal tersebut, data terbaru Bank Indonesia menunjukkan utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Kuartal I 2026 tumbuh melambat.

Posisi ULN Indonesia menyentuh angka USD433,4 miIiar atau hanya tumbuh 0,8 persen secara tahunan.

Bacaan Lainnya
Milo

Hal itu lebih rendah daripada pertumbuhan Kuartal IV 2025 yang mencapai 1,9 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa perkembangan utang sektor publik maupun swasta memengaruhi perlambatan tersebut.

Salah satu pemicu utama adalah aliran modal asing yang masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional.

Ha itu yang menandakan kepercayaan tinggi investor terhadap prospek ekonomi domestik.

Ramdan menambahkan bahwa pemerintah mengelola utang secara cermat, terukur, dan akuntabel.

Tujuannya agar pembiayaan negara tetap produktif demi menyokong program prioritas nasional.

“Sebagai salah satu instrumen pembiayaan APBN, ULN pemerintah mengelola secara cermat, terukur, dan akuntabel,”katanya.

“Serta pemanfaatan yang terus diarahkan untuk mendukung belanja prioritas pemerintah dan memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi,” imbuhnya.

Secara keseluruhan, Bank Indonesia menilai struktur ULN Indonesia masih sehat karena rasio ULN terhadap PDB turun menuju 29,5 persen dari sebelumnya 30 persen.

Keberhasilan menjaga rasio utang yang rendah menjadi sinyal positif bagi stabilitas eksternal.

“Melalui sinergi kebijakan fiskal yang disiplin, APBN mampu berfungsi optimal sebagai penahan gejolak ekonomi (shock absorber) demi mengawal daya beli masyarakat,” katanya.

Pos terkait

Milo