Suhu Kawah Gunung Slamet Meningkat Tajam, Aktivitas Magmatik Menuju Fase Erupsi

Foto citra visual perubahan kondisi kawah Gunung Slamet dari 13 September 2024 hingga 2 April 2026. Sumber Foto: Pos PGA Slamet
Foto citra visual perubahan kondisi kawah Gunung Slamet dari 13 September 2024 hingga 2 April 2026. Sumber Foto: Pos PGA Slamet

Ancaman Erupsi Radius Dua Kilometer

Menurutnya, ketajaman aktivitas vulkanis ini juga terkonfirmasi melalui catatan seismik yang sangat padat.

Sepanjang periode 16 Maret hingga 3 April 2026, petugas merekam sebanyak 866 kali gempa hembusan serta 620 kali gempa frekuensi lemah.

Kemunculan gempa frekuensi rendah yang terekam secara teratur sejak akhir Maret menjadi sinyal kuat bahwa dorongan gas magmatik sedang berlangsung.

“Gempa-gempa berfrekuensi rendah ini terekam secara teratur dengan amplitudo dan durasi yang relatif seragam, berasosiasi dengan adanya peningkatan aktivitas gas magmatik,” tutur Lana

Sementara Kepala Pos Pengamatan Gunungapi Slamet, Muhammad Rusdi, mengungkapkan temuan dari alat Electronic Distance Measurement (EDM).

Bacaan Lainnya
Promo Cleo 1 Liter

Data deformasi menunjukkan bahwa massa magma telah bergerak melewati stasiun pemantauan yang lebih rendah menuju kedalaman yang jauh lebih dangkal.

Saat ini, tekanan besar tertimbun tepat di bawah tubuh gunung yang berpotensi memicu erupsi freatik maupun magmatik sewaktu-waktu.

Hasil pengamatan dan analisis data-data pemantauan menunjukkan adanya peningkatan tekanan di bawah tubuh Gunungapi Slamet.

“Hal ini dapat memicu munculnya gempa-gempa dangkal. Meningkatkan kemungkinan terjadinya erupsi,” kata Rusdi pada Sabtu 4 April 2026.

Ia memetakan tiga potensi bahaya utama, yakni hujan abu lumpur, lontaran material pijar, hingga hembusan gas beracun konsentrasi tinggi.

Meskipun aktivitas merangkak naik, otoritas terkait masih mempertahankan status Gunung Slamet pada Level II atau Waspada.

Namun, Badan Geologi menetapkan zona larangan bagi masyarakat dan wisatawan dalam radius dua kilometer dari kawah puncak.

Guna mengantisipasi situasi yang berkembang cepat, Pos Pengamatan di Desa Gambuhan, Pemalang, berencana menambah personel tim tanggap darurat untuk memperkuat pengawasan selama 24 jam penuh.

“Kami berharap masyarakat tetap tenang. Namun meningkatkan kewaspadaan terhadap informasi resmi dari pusat vulkanologi,” katanya.

 

 

Pos terkait