TABLOIDELEMEN.com – Ribuan aktivis dari komunitas pecinta alam di Purbalingga melaksanakan aksi penanaman 5000 pohon bersama di lereng Gunung Slamet
Aksi yang terselenggara di Dusun Gunung Malang, Desa Serang, Kecamatan Sabtu 4 April 2026 ini diinisiasi oleh empat komunitas.
Yaitu Karang Taruna Gunung Malang, KeboneYu Paijem, Perhimpunan Pegiat Alam Ganesha Muda (PPA GASDA), dan Komunitas Patanjala Purbalingga.
Langkah masif ini menyasar kawasan hulu daerah aliran sungai (DAS) lereng Gunung Slamet yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat terjangan banjir bandang.
Inisiator kegiatan, Nur Hadiyati yang akrab dengan sapaan Yu Paijem dari Komunitas Yu Paijem menyebut bahwa kepedulian terhadap alam merupakan kewajiban moral setiap individu.
Sebagai warga lokal, ia menyaksikan langsung bagaimana limpasan air dan material tanah mengancam permukiman warga saat bencana melanda.
Menurutnya, menanam pohon adalah cara terbaik untuk merawat hubungan antara manusia dan semesta.
Peduli lingkungan ibarat lingkungan itu sebagai keluarga dan perlu keselarasan dan saling merawat.
“Saya juga berdomisili di Desa Serang, melihat dampak banjir bandang beberapa waktu lalu dan adanya longsoran di lereng Gunung Slamet,” katanya
“Kami melihat ada kerusakan dan perlunya aksi kegiatan penanaman pohon,” tegasnya.
Menurutnya, sejumlah pejabat hadir memberikan dukungan, antara lain Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Purbalingga Mukodam yang mewakili Bupati.
Serta, Kepala DLH Provinsi Jawa Tengah Widi Hartanto, dan Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah Harun Abdul Khafizh.
Sedangkan dukungan pelaksanaan kegiatan mengalir dari berbagai pihak.
Seperti Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah VI Jawa Tengah, Perum Perhutani dan, Edeeweis Adventure.
Lalu Dinas Lingkungan Hidup Perumahan dan Kawasan Permukiman (DLHPKP) Kabupaten Purbalingga, Perumda Tirta Perwira, Pramuka Peduli Kwarcab Purbalingga, TNI dan Polri.
Serta, aktivis Lingkungan , Pencinta Pendaki Gunung dan elemen komunitas masyarakat lainnya.
“Kami berharap, sinergi ini mampu mempercepat pemulihan lahan kritis. Sekaligus mencegah bencana serupa berulang pada masa mendatang,” tegasnya Yu Paijem.

Menulis itu tidak selalu dengan paragraf-paragraf yang panjang. Menulislah tentang perasaan kita dan tentang apa yang ada dipikiran kita. Tanpa tersadar, kita sesungguhnya telah menulis.
Baca update artikel lainnya di Google Berita

















