Antisipasi Erupsi Gunung Slamet, Bupati Pemalang Minta Simulasi Penyelamatan Harus Terukur

Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro, menekankan pentingnya simulasi evakuasi secara terukur guna menghadapi potensi erupsi Gunung Slamet yang kini berstatus Waspada atau Level II.
Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro, menekankan pentingnya simulasi evakuasi secara terukur guna menghadapi potensi erupsi Gunung Slamet yang kini berstatus Waspada atau Level II.

TABLOIDELEMEN.com – Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro, menekankan pentingnya simulasi evakuasi secara terukur guna menghadapi potensi erupsi Gunung Slamet yang kini berstatus Waspada atau Level II.

Anom meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemalang menyiapkan skenario penyelamatan, baik untuk kondisi siang maupun malam hari.

Karena masyarakat memerlukan arahan jelas agar mampu menghindari kepanikan saat situasi darurat melanda.

“Saya menyarankan pemasangan penanda visual seperti simbol, warna, atau bendera pada titik tertentu sebagai pemandu arah.

Ia menambahkan, harus ada simulasi pada saat kejadian siang hari dan malam hari dengan menyelenggarakan simulasi jalur-jalur penyelamat.

Bacaan Lainnya
Milo

“Karena masyarakat biasanya cenderung berjalan dengan alur pikirannya sendiri jika tidak ada yang memandu,” kata Anom di Pos Pengamatan Gunung Api Slamet, Desa Gambuhan.

Menanggapi arahan tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Pemalang, Agus Ikmaludin, melaporkan adanya tren peningkatan aktivitas vulkanik.

“BPBD Pemalang sejauh ini terus menjalankan sosialisasi serta pemetaan jalur evakuasi alternatif bagi warga terdampak,” katanya.

Ia menegaskan, sesuai ketetapan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), radius aman kini meluas menjadi 3 kilometer dari kawah.

“Walaupun sudah 12 tahun tidak ada aktivitas signifikan, mitigasi harus tetap ada. Kita semua berharap tidak terjadi apa-apa, tetapi kesiapsiagaan harus focus utama,” kata Agus.

Kepala UPJI Wilayah III Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Yudhi Kuswoyo, memastikan kesiapan jalan kabupaten dan desa sebagai jalur penyelamatan awal.

“Namun, kami hanya merekomendasikan jalur tertentu setelah 30 menit masa darurat. Agar warga terhindar dari risiko aliran material vulkanik pada area sungai,” katanya.

Pos terkait

Milo