TABLOIDELEMEN.com – Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Purbalingga Lor mencetak prestasi gemilang dan menjadi lumbung siswa berprestasi dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD tahun 2026
Dua siswa dari sekolah yang terkenal dengan nama Galosa ini sukses memimpin peringkat terbaik sebagai peraih nilai tertinggi untuk gabungan mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia tingkat kabupaten.
Siswa berprestasi tersebut ialah Humaira Afsar Maulidina dan Muhammad Musyaffa Abisena yang meraih nilai kembar sebesar 193,34.
Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, tiga siswa Galosa yaitu Muhammad Fikri Hanif Fakhruddin, Naira Azzahra Liandra Putri, dan Hafara Dwi Nurhanisa berhasil meraup nilai sempurna 100.
Sementara untuk mata pelajaran Matematika, Humaira Afsar Maulidina dan Muhammad Musyaffa Abisena mengumpulkan nilai tinggi sebesar 96,67.
Plt. Kepala SDN 1 Purbalingga Lor, Cipto Hartanto, menyampaikan apresiasi tinggi atas capaian yang membanggakan ini.
“Pencapaian prestasi membanggakan ini merupakan kolaborasi yang sudah lama terbangun baik dari oleh anak, para guru, dan orang tua siswa,” ucapnya.
Rasa bangga juga hadir dari guru kelas enam, Tri Suwarni dan Jiamelatun, yang mengawal perjuangan serta konsentrasi tinggi 67 siswa kelas enam.
Karena pelaksanaan TKA ini menjadi pengalaman pertama bagi para siswa.
“TKA ini merupakan instrumen nasional untuk mengukur capaian akademik siswa secara terstandar,” tutur Tri Suwarni, Rabu 3 Juni 2026.
Ia menjelaskan bahwa literasi dan numerasi menjadi komponen wajib guna menilai kemampuan bernalar kritis serta memahami konsep.
“Dengan penguasaan materi Bahasa Indonesia dan Matematika yang baik, nantinya anak-anak akan terbiasa memecahkan masalah dalam konteks kehidupan nyata, bukan sekadar mengingat materi,” tambahnya.
Lumbung Siswa Berprestasi
Menurut Tri Suwarni, kedua mata pelajaran tersebut menjadi fondasi utama bagi tumbuhnya kemampuan literasi dan numerasi siswa.
“Dua fondasi yang berguna untuk mempelajari hal-hal yang lain, mempelajari ilmu-ilmu yang lain. Sekaligus untuk bermasyarakat, untuk berwarga di kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Menurutnya, untuk mengoptimalkan potensi, para guru Galosa mengubah pendekatan pembelajaran Matematika sejak kelas satu.
Para guru sudah menghilangkan anggapan mata pelajaran matematika itu sulit dan menakutkan dengan mengubah pendekatan pembelajaran menjadi lebih menyenangkan.
“Kami menanamkan pengertian kepada seluruh siswa, bahwa matematika bukan sekadar deretan rumus rumit, melainkan alat praktis untuk membaca pola, dan menyelesaikan masalah sehari-hari,” tuturnya.
Selaras dengan hal tersebut, Jiamelatun membagikan strategi sukses para siswa.
Guru memberikan persiapan materi TKA bersamaan dengan pembelajaran reguler, termasuk menyusun gambaran soal ujian.
“Jadi materi matematika kelas 6 rampung, persiapan materi TKA juga rampung. Kami tidak mulai mengenalkan TKA di bulan Januari. Semester 2 tinggal 3 tryout terus,” ungkap Jiamelatun.
Jiamelatun menekankan pentingnya sinergi tiga komponen antara siswa, guru, dan orang tua.
Namanya pembelajaran di sekolahan tidak bisa jalan satu saja, ibaratnya para guru ini tangan kanan, orang tua tangan kiri.
Kalau mau bertepuk tangan atas prestasi untuk anaknya. Harus kedua tangan ini bertepuk bersamaan.
“Artinya para guru di sekolah dan orang tua harus bersama-sama berusaha mewujudkannya. Jadi Nanti kita bisa bertepuk tangan Bersama untuk prestasi anak-anak kita cinta,” kata Jiamelatun.
Orangtua siswa Humaira Afsar Maulidina, Yeyen Hendayani, turut memuji komunikasi aktif dari pihak sekolah.
“Setiap waktu pasti ada informasi tentang perkembangan belajar anaknya. Misalnya, pernah Bu Guru menitipkan pesan agar membantu Aira dalam public speaking. Aira ini memang Sukanya diam dan tidak banyak ngomong,” akunya.
Humaira Afsar Maulidina sendiri mengaku lancar saat menghadapi ujian berkat bimbingan intensif tiga kali seminggu hingga pukul 14.00 WIB.
“Kalau menurut saya sih, ada beberapa yang susah, ada beberapa yang gampang. Jadi ya, susahnya di tengah-tengah,” ungkap anak yang bercita-cita menjadi dokter tersebut.
Ia juga terus mengingat nasihat penting dari gurunya selama ujian.
“Iya Bu Jia pernah berpesan, harus teliti membaca soal. Terus juga kalau memecahkan soal, jangan terlalu terburu-buru. Harus tetap santai bila memecahkan soal,” tutup Aira.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google Berita
















