Bank Indonesia Optimalkan Seluruh Instrumen Kebijakan Jaga Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia Siap Intervensi Pasar Secara Terukur
Bank Indonesia Siap Intervensi Pasar Secara Terukur

TABLOIDELEMEN.com – Bank Indonesia (BI) angkat bicara mengenai nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Mata uang Garuda sempat menyentuh level Rp17.954 per dolar AS pada perdagangan Rabu 3 Juni 2026  siang, mencatatkan rekor terlemah sepanjang sejarah.

Merespons kondisi tersebut, bank sentral menegaskan komitmen penuh untuk mengawal pasar keuangan guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resminya menegaskan,  Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik.

Serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal,” katanya

Bacaan Lainnya
Milo

Langkah nyata BI mencakup optimalisasi seluruh instrumen kebijakan guna memastikan mekanisme pasar berjalan sehat.

Selain itu, bank sentral berfokus menjaga kecukupan likuiditas valuta asing (valas) di dalam negeri.

Bank Indonesia terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan.

“Tujuannya untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan,” katanya

Sebagai strategi tambahan, BI menerapkan ketentuan baru terkait transaksi mata uang asing sejak 2 Juni 2026.

Aturan tersebut membatasi pembelian valas tunai terhadap rupiah tanpa dokumen pendukung (underlying) menjadi maksimal US$25 ribu per pelaku pasar setiap bulan.

Bukan hanya itu, BI gencar mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT).

Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus meredam risiko gejolak eksternal.

Saat ini, Indonesia telah menjalin kerja sama LCT dengan China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

Ramdan menambahkan bahwa penguatan rupiah memerlukan peran aktif seluruh pemangku kepentingan, bukan sekadar bertumpu pada kebijakan moneter.

“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar. Guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” pungkasnya.

 

 

Pos terkait

Milo