TABLOIDELEMEN.com – Pencapaian prestasi belajar yang membanggakan pasti memerlukan ketekunan dan kedisiplinan membagi waktu antara bermain dan belajar.
Prinsip inilah yang mengantarkan Humaira Afsar Maulidina, murid SD Negeri 1 Purbalingga Lor, mencetak prestasi gemilang.
Anak gadis kelahiran 15 Januari 2014 ini meraih nilai 96,67 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD tahun 2026.
Aira, panggilan akrabnya, juga menempati peringkat pertama nilai tertinggi gabungan mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika dengan jumlah 193,34.
Ia tidak sendiri, karena pencapaian nilai kembar itu terukir bersama teman satu sekolahnya, Muhammad Musyaffa Abisena.
Dua siswa dari sekolah yang terkenal dengan nama Galosa ini sukses memimpin peringkat terbaik tingkat kabupaten.
Saat menceritakan pengalamannya di rumah yang penuh deretan piala lomba akademik, anak pasangan Aris Siswanto PNS Setda Purbalingga dan Yeyen Hendayani PNS di Puskesmas Kaligondang ini mengaku lancar menghadapi ujian berkat bimbingan intensif sekolah.
“Kalau untuk soal TKA kemarin menurut saya sih, ada beberapa yang susah, ada beberapa yang gampang. Jadi ya, susahnya di tengah-tengah,” ungkap Aira yang bercita-cita menjadi dokter tersebut.
Selama ujian, Aira terus mengingat nasihat penting dari gurunya agar tetap tenang.
“Iya Bu Jia pernah berpesan, harus teliti membaca soal. Terus juga kalau memecahkan soal, jangan terlalu terburu-buru. Harus tetap santai bila memecahkan soal,” kata Aira.
Menurutnya, tantangan terbesar ada pada soal cerita matematika yang penuh jebakan logika dan perhitungan jarak, namun kegemaran membaca membantunya mengatasi kesulitan tersebut.
Kemandirian Aira juga menjadi kunci utama kesuksesan ini.
Sang bunda, Yeyen Hendayani, mengisahkan bahwa kesibukan kerja membuat komunikasi intensif dengan Aira baru terwujud pada malam hari.
Meski demikian, mereka selalu menjaga kualitas komunikasi, seperti mendengarkan cerita keseruan sekolah atau mendukung kegemaran Aira terhadap matematika.
“Aira itu sangat menyukai Matematika. Kalau ada Olimpiade Matematika atau lomba apa, memang ingin ikut terus,” imbuh Yeyen.
Saat belajar, Aira lebih sering meminta pendampingan orang tua tanpa bersikap manja.
“Biasanya ia mengerjakan sendiri dulu, kalau tidak tahu baru bertanya,” kenang Yeyen.
Mengenai penggunaan teknologi, Yeyen memberikan kebebasan menggunakan gawai asalkan sang anak tetap bertanggung jawab.
“Paling saya cerewet, Ra tolong bedakan antara pas waktu belajar sama bermain gawai. Kamu main gawai dulu enggak apa-apa. Tapi nanti habis itu tinggalkan gawainya, belajar. Gitu paling saya. Pokoknya harus bisa bagi waktu,” tegasnya.
Di samping peran keluarga, kerja sama yang baik dari pihak sekolah turut membentuk karakter Aira.
Yeyen memuji guru-guru yang aktif memberikan informasi perkembangan anak, termasuk memberi saran untuk melatih public speaking Aira yang cenderung pendiam.
Berkat kolaborasi harmonis antara ketekunan anak, perhatian orang tua, dan bimbingan guru, prestasi puncak pun berhasil masuk ke pelukan Aira.
“Setiap waktu pasti ada informasi tentang perkembangan belajar anaknya. Misalnya, pernah Bu Guru menitipkan pesan agar membantu Aira dalam public speaking. Aira ini memang Sukanya diam dan tidak banyak ngomong,” akunya.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google Berita
















