TABLOIDELEMEN.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah merilis data terbaru Tes Kompetensi Akademik 2026.
Hasil TKA menunjukkan ketimpangan mencolok antara capaian mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika pada jenjang SD dan SMP pada berbagai provinsi.
Nilai rerata Matematika tercatat masih tertinggal jauh, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap kemampuan numerasi siswa sebagai fondasi logika dan sains.
Mayoritas provinsi mencatat rerata Bahasa Indonesia pada kisaran angka 50 hingga 70. Sebaliknya, capaian Matematika masih berkutat pada angka 30 hingga 40-an.
Daerah Istimewa Yogyakarta dan DKI Jakarta sebagai pemilik capaian tertinggi pun menghadapi persoalan serupa.
Yogyakarta menghasilkan nilai Bahasa Indonesia SD sebesar 75,14.
Namun Matematika SD hanya menyentuh angka 61,64 dan merosot ke angka 51,65 pada jenjang SMP.
Sementara itu, DKI Jakarta membukukan rerata Bahasa Indonesia SD sebesar 71,30
Sedangkan Matematika SD hanya mencapai 51,38 dan kembali menurun ke angka 45,31 pada tingkat SMP.
Ketimpangan serupa melanda luar Pulau Jawa, seperti Maluku Utara yang menghasilkan rerata Matematika SD sebesar 35,69 dan SMP sebesar 36,15.
Nilai Matematika Masih Rendah
Pada wilayah Papua Selatan, nilai Matematika SMP bahkan menjadi salah satu yang terendah dengan angka 35,44.
Sejumlah pengamat pendidikan menilai rendahnya capaian numerasi siswa bersumber dari metode pembelajaran yang kurang kontekstual.
Guru kerap mengajarkan Matematika sebatas hafalan rumus dan pengerjaan soal abstrak.
Akibatnya, siswa mengalami kesulitan memahami penerapan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Selain faktor metode, fenomena kecemasan terhadap Matematika atau math anxiety juga menjangkiti kalangan siswa.
Stigma bahwa Matematika merupakan pelajaran sulit membuat anak kehilangan keyakinan sejak awal.
Kesenjangan kualitas tenaga pendidik, terutama pada wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), ikut memperparah capaian numerasi nasional akibat keterbatasan guru dengan metode kreatif.
Melalui slogan #PendidikanBermutuUntukSemua dan visi RAMAH, pemerintah memikul harapan besar masyarakat agar mampu mempercepat transformasi pembelajaran numerasi.
Pendekatan belajar yang menyenangkan atau joyful learning menjadi langkah penting untuk mengubah pandangan siswa.
Penguatan numerasi membutuhkan sinergi kokoh antara pemerintah, sekolah, guru, dan orang tua demi melahirkan generasi unggul bidang sains dan teknologi.

Awali dengan kepedulian, niscaya akan menjadi gagasan dalam menulis.
Baca update artikel lainnya di Google Berita
















