Fluktuasi Harga Bahan Pokok Picu Penurunan Daya Beli Masyarakat di Pasar Pahing Kuripan Cilacap

Aktivitas jual beli di Pasar Pahing Kuripan, Kabupaten Cilacap pada Senin 20 April 2026. Sumber Foto: Eling Fajriyatun Aeni
Aktivitas jual beli di Pasar Pahing Kuripan, Kabupaten Cilacap pada Senin 20 April 2026. Sumber Foto: Eling Fajriyatun Aeni

TABLOIDELEMEN.com – Aktivitas dagang di Pasar Pahing Kuripan Kabupaten Cilacap menunjukkan tren kelesuan dalam sepekan terakhir.

Fenomena fluktuasi harga sejumlah bahan pokok memicu masyarakat untuk mulai membatasi belanja harian mereka.

Meskipun beberapa komoditas mengalami penurunan harga, para pedagang mengeluhkan kondisi daya beli yang kian melemah.

Kenaikan harga secara signifikan menyasar sejumlah komoditas utama pada Senin 20 April 2026

Harga beras melonjak dari Rp12.500 per kilogram menjadi Rp14.000 per kilogram.

Bacaan Lainnya
Kartini 21 April 2026

Harga komoditas sayuran pun menyusul merangkak naik, seperti terong yang kini menyentuh Rp10.000, serta buncis pada angka Rp12.000 per kilogram.

Sebaliknya, beberapa bahan pangan justru mengalami penurunan harga yang cukup drastis.

Cabai rawit yang semula berharga Rp80.000 per kilogram kini turun ke angka Rp50.000 per kilogram.

Harga bawang merah dan bawang putih juga merosot menjadi Rp32.000, sementara tomat turun menjadi Rp12.000 per kilogram.

Persoalan utama bagi para pedagang bukan sekadar perubahan harga, melainkan hilangnya konsumen.

Saeful, seorang pedagang di Pasar Pahing Kuripan, menyebutkan bahwa jumlah pengunjung merosot tajam hingga 60 persen.

Penurunan Daya Beli Masyarakat

Ia menilai kondisi ini berkaitan erat dengan lesunya kemampuan ekonomi warga saat ini.

“Pembeli berkurang hampir 60 persen. Yang tadinya jualan jadi tidak jualan, jadi pada tidak belanja di pasar lagi,” tutur Saeful

Saeful menjelaskan bahwa lonjakan harga beberapa waktu lalu menghantam operasional pelaku usaha kecil.

Sejumlah pedagang makanan atau warung kecil memilih berhenti beraktivitas karena beban modal yang terlalu tinggi.

Hal tersebut secara otomatis memangkas sirkulasi uang dan kegiatan belanja di pasar tradisional.

Keluhan senada muncul dari kalangan konsumen yang merasakan beban pengeluaran rumah tangga semakin membengkak.

Manawiyah, seorang pembeli, mengaku harus merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan pokok, terutama beras.

Kenaikan harga minyak goreng dan telur juga menambah daftar panjang tekanan pengeluaran bulanan.

“Yang paling terasa naik itu beras, dari Rp12.500 jadi Rp14.000. Pengeluaran juga jadi bertambah banyak, sekarang Rp100.000 belum komplit,” kata Manawiyah

Hingga kini, para pedagang dan pembeli masih menanti kepastian kebijakan yang mampu menormalisasi situasi pasar.

Mereka, menginginkan adanya stabilitas harga agar masyarakat mampu menjangkau kebutuhan hidup harian tanpa tekanan berlebih.

 

Penulis: Eling Fajriyatun Aeni merupakan Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto angkatan 2023

 

Pos terkait

Kartini 21 April 2026