Dijemur Matahari dan Dihimpit Harga Plastik, Begini Cara Pabrik Mi Ho Kie San Bertahan Lebih dari Seabad

Proses pengemasan produksi Pabrik Mi Ho Kie San di Desa Wlahar Kulon, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas dengan metode manual  sejak tahun 1925. Foto: Alifa Rida Fatonatush Izza, Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Angkatan 2023, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto
Proses pengemasan produksi Pabrik Mi Ho Kie San di Desa Wlahar Kulon, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas dengan metode manual  sejak tahun 1925. Foto: Alifa Rida Fatonatush Izza, Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Angkatan 2023, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

TABLOIDELEMEN.com – Hamparan mi tipis tampak memenuhi area penjemuran bawah terik matahari di Desa Wlahar Kulon, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas.

Meskipun industri modern berkembang pesat, Pabrik Mi Ho Kie San setia menggunakan tangan manusia untuk mengolah adonan mi hingga pengemasan secara mandiri.

Pabrik Mi Ho Kie San tetap menjaga tradisi produksi sejak tahun 1925 melalui metode manual.

Walaupun sempat mencoba beralih ke sistem semi-modern menggunakan mesin.

Namun, kapasitas alat tersebut hanya mampu mengolah 70 sak tepung atau setara 1.250 kilogram per hari.

Bacaan Lainnya
Milo

Angka tersebut masih berada bawah target produksi harian yang mencapai 80 sak atau sekitar 2.000 kilogram.

Kegagalan teknologi memenuhi target tersebut membuat manajemen kembali mengandalkan tenaga 85 pekerja lokal.

Saat ini, tantangan terbesar muncul dari lonjakan harga bahan pendukung, terutama kemasan plastik.

Kenaikan harga pembungkus ini sangat signifikan dan membebani biaya operasional perusahaan.

Plastik memiliki peran vital sebagai pembungkus dan menjadi pelindung utama kualitas mi agar tetap awet selama proses distribusi ke pelanggan.

Bagian pemasaran mi Ho Kie San, Latif mengungkapkan kegelisahannya terhadap situasi pasar saat ini.

“Harga plastik sekarang naiknya jauh sekali. Dulu Rp28.500 per kilogram, sekarang sudah Rp53.000, dan masih bisa naik lagi,” katannya, Sabtu 24 April 2026.

Tantangan Distribusi dan Persaingan Pasar

Meskipun biaya produksi naik, perusahaan memilih kebijakan untuk tidak mengubah harga jual produk ke pasar.

Manajemen menetapkan harga mi kering tetap pada kisaran Rp20.000 per kilogram.

Langkah ini merupakan strategi agar konsumen tidak berpindah ke produk lain.

Pihak pabrik menegaskan bahwa kenaikan harga berisiko menyebabkan jumlah pembeli berkurang drastis pada masa sulit.

Hingga kini, wilayah Barlingmascakeb dan Wonosobo menjadi area utama peredaran mi Ho Kie San.

Jangkauan pasar menuju kota besar seperti Jakarta, Semarang, maupun Jawa Barat masih sangat terbatas.

Total pengiriman ke luar daerah tersebut hanya menyentuh angka satu persen dari keseluruhan jumlah produksi.

Persaingan usaha juga semakin tajam karena produsen pesaing menawarkan sistem pembayaran yang lebih fleksibel.

Hal ini membuat margin keuntungan perusahaan Ho Kie San kian menipis dari waktu ke waktu.

Sebagai solusi, manajemen pabrik mi Ho Kie San fokus memperluas jaringan distribusi dan meningkatkan efisiensi

Serta menjaga kualitas, dan lebih berhati-hati dalam proses pengemasan agar tidak ada plastik yang terbuang sia-sia

Para pelaku usaha berharap stabilitas harga bahan baku segera terwujud agar kegiatan produksi melegenda ini tetap berlanjut.

“Harapannya sederhana, harga bahan tidak terus melonjak, dan usaha ini tetap bisa berjalan seperti biasa,” kata Latif.

Vivi, pemilik warung yang rutin menjajakan mi Ho Kie San juga merasakan kondisi pasar yang penuh ketidakpastian.

Menurutnya, mi produksi Ho Kie San memang akrab di berbagai olahan, mulai bakmi semangkuk bakso. Sederhana, tapi dekat dengan keseharian masyarakat.

“Sebulan biasanya ambil lima bal ukuran satu ons. Tapi pembelinya tidak menentu. Kalau lagi butuh, bisa banyak. Biasanya buat bakmi sama bakso. Tapi kalau tidak , ya sepi,” katanya.

Penulis: Alifa Rida Fatonatush Izza, Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Angkatan 2023, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

Pos terkait

Milo