Dindikbud Purbalingga Pulihkan Trauma Ratusan Pelajar Terdampak Bencana

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga, Heru Sri Wibowo saat melihat langsung pelajar terdampak Bencana Hidrometeorologi di Purbalingga
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga, Heru Sri Wibowo saat melihat langsung pelajar terdampak Bencana Hidrometeorologi di Purbalingga

TABLOIDELEMEN.com – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga bergerak cepat menangani dampak bencana hidrometeorologi yang menimpa dunia pendidikan di wilayah Purbalingga.

Berdasarkan data terkini, sebanyak 130 pelajar dari berbagai jenjang pendidikan kehilangan perlengkapan sekolah akibat terjangan banjir bandang dan tanah longsor yang melanda pemukiman mereka.

Para siswa tersebut kehilangan seragam merah putih, biru putih, hingga seragam Pramuka karena hanyut terbawa arus atau tertimbun material bencana.

Kepala Dindikbud Kabupaten Purbalingga, Heru Sri Wibowo, memastikan bantuan logistik berupa pakaian sekolah telah tersalurkan kepada para siswa yang identitas dan alamatnya sudah terverifikasi secara akurat.

“Sudah kami salurkan sejumlah 130 paket dari PAUD, TK, SD, SMP. Ada dua tahap, tahap 1 sudah, ini tahap 2,” kata Heru Sri Wibowo usai rapat koordinasi di Posko Tanggap Darurat Desa Serang, Kamis, 5 Februari 2026.

Bacaan Lainnya
Milo

Meskipun kerusakan fisik terjadi di berbagai titik, Heru menjamin Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tetap berlangsung.

Pola pembelajaran adaptif serta kunjungan guru ke rumah-rumah siswa (guru visit) menjadi solusi utama agar hak pendidikan anak tetap terpenuhi di tengah masa darurat.

Menurutnya, selain pemenuhan kebutuhan fisik, pemerintah daerah memprioritaskan pemulihan kondisi psikologis para siswa.

“Kami juga mengerahkan kekuatan penuh untuk melakukan pendampingan trauma healing bagi anak-anak yang mengalami ketakutan mendalam,” katanya.

Pulihkan Trauma Pelajar Terdampak Bencana

Ia menjelaskan, dalam menjalankan misi kemanusiaan ini, Dindikbud melibatkan Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK), kumpulan psikolog Purbalingga, serta para pakar dari Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.

Setiap sekolah mendapatkan jadwal pendampingan khusus selama tiga hari guna memastikan kesehatan mental siswa kembali stabil.

“Hal ini sangat penting, karena bagi mereka yang kemarin melaksanakan pembelajaran adaptif yaitu mereka yang sekolahnya tidak terdampak, namun rumahnya terdampak, mengalami kecemasan tersendiri,” tutur Heru.

Situasi di lapangan menunjukkan gejala trauma yang cukup mengkhawatirkan.

Meskipun beberapa siswa sudah kembali ke sekolah, rasa cemas sering kali muncul secara tiba-tiba saat kondisi cuaca memburuk.

Heru mencatat adanya fenomena kepanikan bagi pelajar terdampak bencana ketika langit mulai menggelap.

“Ternyata mereka yang sudah mulai masuk sekolah pun, ketika siang hari mulai merasa trauma. Mereka takut dengan hujan. Baru mendung saja sudah panik minta pulang,” ungkapnya menggambarkan kondisi psikis anak-anak.

Guna mengatasi hal tersebut, Dindikbud menerapkan prosedur penanganan tiga tahap yang meliputi asesmen awal, terapi, serta pendampingan trauma healing.

Program ini menyasar seluruh pelajar tanpa terkecuali.

Yakni melalui pola kunjungan ke rumah sebanyak tiga kali untuk setiap anak yang teridentitas mengalami gangguan kecemasan.

“Insya Allah terkait hal itu semua sudah terkondisikan. Minta doanya saja, agar anak-anak kami pulih dari trauma bencana alam ini,” harap Heru.

Terkait infrastruktur, bencana alam yang terjadi di wilayah Kabupaten Purbalingga ini juga menyisakan kerusakan pada sarana dan prasarana pendidikan.

Tercatat enam SMP, tujuh SD, enam TK, dan tujuh Kelompok Bermain mengalami kerusakan akibat angin kencang.

Bahkan, bangunan SMP Negeri 3 Karangmoncol, SMP Negeri 1 Kejobong, serta SMP Negeri 2 Bobotsari mengalami kerusakan serius karena tertimpa pohon tumbang.

“Selain SMP Negeri 3 Karangmoncol yang kerusakannya cukup mayor, SMP Negeri lainnya sudah bisa melakukan perbaikan mandiri,” tutup.

Pos terkait

Milo