TABLOIDELEMEN.com – Nilai tukar rupiah kembali mengakui kedigdayaan dolar Amerika Serikat (AS).
Pada perdagangan Rabu 2 Juni 2026 sore, mata uang Garuda menutup transaksi dengan pelemahan 127,5 poin atau sebesar 0,71 persen ke level Rp17.966 per dolar AS.
Angka tersebut mencatatkan rekor sebagai level terburuk rupiah sepanjang sejarah.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa tekanan ganda dari sisi eksternal dan internal menghimpit nilai tukar domestik.
“Sentimen global yang dominan masih berasal dari ketidakpastian konflik AS-Iran, risiko pasokan energi melalui Selat Hormuz, harga minyak yang tetap tinggi, hingga permintaan dolar AS sebagai aset aman (safe haven),” ujar Josua di Jakarta, Rabu
Dari dalam negeri, penipisan surplus neraca perdagangan April 2026 yang merosot tajam menjadi US$90 juta turut memperparah keadaan.
Artinya, pasokan dolar dari perdagangan barang kini jauh lebih tipis.
Kebutuhan dolar untuk impor bahan baku, energi, dan barang modal melonjak
“Sementara tambahan dolar dari ekspor tidak lagi cukup kuat untuk menyeimbangkan pasar,” papar Josua.
Meski demikian, Josua menilai rupiah masih memiliki peluang menguat menuju kisaran Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS melalui tiga syarat utama.
Menurutnya, Rupiah bisa kembali menguat jika ada tiga syarat terpenuhi.
Pertama, harga minyak dunia turun signifikan seiring kemajuan perdamaian AS-Iran.
Kedua, arus modal asing kembali masuk ke SBN dan SRBI.
Ketiga, adanya sinyal fiskal dari pemerintah yang lebih meyakinkan pasar,” jelasnya.
Saat ini, rupiah mencatatkan kinerja bulanan terburuk sejak Oktober 2024.
Pasar kini menunggu bukti nyata perbaikan fundamental ekonomi Indonesia untuk menstabilkan nilai tukar.

Awali dengan kepedulian, niscaya akan menjadi gagasan dalam menulis.
Baca update artikel lainnya di Google Berita












