Sentuh Level Rp18.050 Per Dolar Amerika Serikat, Ini Tujuh Langkah Bank Indonesia Stabilkan Rupiah

Mata uang rupiah melemah 0,17 persen ke level Rp18.050 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat 5 Juni 2026
Mata uang rupiah melemah 0,17 persen ke level Rp18.050 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat 5 Juni 2026

TABLOIDELEMEN.com – Bank Indonesia (BI) menegaskan bank sentral masih memiliki tujuh langkah ampuh untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang saat ini mengalami tekanan besar.

Upaya strategis ini mengemuka setelah mata uang rupiah melemah 0,17 persen ke level Rp18.050 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat 5 Juni 2026 berdasarkan data Refinitiv.

Langkah pertama berupa penguatan intervensi di Pasar Valas dalam negeri maupun luar negeri secara berkelanjutan (around the clock).

Bank sentral menempuh langkah tersebut melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik

Serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pusat keuangan global.

Bacaan Lainnya
Milo

Kedua, BI mengoptimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) agar aset domestik tetap memiliki daya tarik tinggi bagi investor.

“Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga SRBI dalam beberapa bulan terakhir. Kebijakan ini akan mendorong kembali aliran modal asing masuk (portfolio inflow) ke pasar keuangan domestik setelah sebelumnya sempat terjadi outflow,” tulis BI dalam akun resmi Instagram @bank_indonesia, Jumat 6 Juni 2026

Masuknya aliran modal asing tersebut membantu memperkuat stabilitas kurs serta mendukung kecukupan pasokan valas di dalam negeri.

Selaras dengan upaya tersebut, amunisi ketiga adalah pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Hal itu demi menjaga kecukupan likuiditas perbankan sekaligus mewujudkan sinergi erat antara kebijakan moneter dan fiskal.

Bank Indonesia juga membeli SBN yang pada 2026 (hingga 19 Mei 2026) mencapai Rp140,57 triliun, termasuk pembelian di pasar sekunder sebesar Rp73,28 triliun

Langkah keempat, BI mengawal pertumbuhan uang primer (M0) lebih dari 10 persen sesuai arah ekspansi moneter.

Bank sentral memastikan seluruh aksi pasar ini berjalan secara kredibel.

Pembelian SBN di pasar sekunder dilakukan sesuai mekanisme pasar, terukur, transparan, dan konsisten dengan program moneter.

Hal ini untuk menjaga stabilitas perekonomian dan mempertahankan kredibilitas kebijakan moneter dalam menjaga likuiditas di pasar uang dan perbankan

Selanjutnya, amunisi kelima meliputi penurunan threshold tunai beli valas tanpa underlying menjadi 25.000 dolar AS per pelaku per bulan mulai Juni 2026

Serta perluasan transaksi Yuan-Rupiah melalui Local Currency Transaction (LCT).

Keenam, BI memperkuat intervensi di pasar offshore NDF dengan memperluas kepesertaan bank Dealer Utama PUVA.

Ketujuh berupa penguatan pengawasan terhadap aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi melalui koordinasi erat bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Di samping menstabilkan rupiah, BI tetap mendorong pertumbuhan ekonomi nasional lewat berbagai kebijakan makroprudensial.

Yakni dengan memperkuat Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna memacu kredit perbankan ke sektor prioritas seperti pertanian, industri, hilirisasi, ekonomi kreatif, perumahan, hingga UMKM.

BI juga melonggarkan Kebijakan Intermediasi Perbankan.

Langkah ini melalui perluasan cakupan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) per 1 Juli 2026 agar perbankan lebih fleksibel mengelola dana.

Sinergi lintas sektor melalui Program Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI) bersama pemerintah dan dunia usaha terus berjalan demi mengoptimalkan pembiayaan ekonomi.

Terakhir, BI mengakselerasi digitalisasi sistem pembayaran lewat perluasan QRIS antarnegara serta pengembangan wirausaha digital melalui Pusat Inovasi Digitalisasi Indonesia (PIDI).

 

 

 

Pos terkait

Milo