Komoditas Talas Menjadi Primadona Ekspor dan Solusi Ketahanan Pangan

Tanaman talas kini naik kelas dari sekadar panganan tradisional menjadi komoditas unggulan yang menjanjikan keuntungan besar bagi petani.
Tanaman talas kini naik kelas dari sekadar panganan tradisional menjadi komoditas unggulan yang menjanjikan keuntungan besar bagi petani.

TABLOIDELEMEN.com – Tanaman talas kini naik kelas dari sekadar panganan tradisional menjadi komoditas unggulan yang menjanjikan keuntungan besar bagi petani.

Umbi-umbian ini memiliki daya adaptasi tinggi sehingga mampu tumbuh subur mulai dari lahan pekarangan hingga perkebunan skala luas.

Selain menawarkan rasa yang gurih dan tekstur yang lembut, talas mengandung serat tinggi, kalium, dan vitamin yang sangat baik untuk menjaga kesehatan pencernaan serta stabilitas gula darah.

Pengembangan budidaya talas secara intensif mulai terlihat di berbagai sentra pertanian karena permintaan pasar luar negeri yang terus melonjak.

Jepang dan Thailand menjadi negara tujuan ekspor utama yang mengincar talas sebagai bahan baku industri pangan dan kosmetik.

Bacaan Lainnya
Promo Cleo 1 Liter

Selain itu, peternak dan pengolah pangan kini melirik talas bukan hanya bagian umbinya saja, namun juga batang dan daunnya yang memiliki nilai ekonomi tambahan jika pengolahannya tepat.

Pakar pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Suryo Wiyono, menegaskan bahwa talas memiliki potensi besar untuk menggantikan ketergantungan masyarakat pada beras.

Ia menilai talas sebagai tanaman masa depan karena ketahanannya terhadap perubahan iklim dan serangan hama yang relatif minim.

Suryo memberikan catatan bahwa kunci sukses budidaya talas terletak pada manajemen pengairan dan pemilihan bibit unggul agar menghasilkan umbi berkualitas ekspor.

Talas memiliki indeks glikemik yang rendah, sehingga sangat relevan bagi pola diet sehat masyarakat modern.

“Petani perlu meningkatkan teknik pascapanen agar standar produk memenuhi kriteria industri global,” kata Suryo saat memberikan pemaparan mengenai diversifikasi pangan baru-baru ini.

Menurutnya, melalui pendampingan teknis yang konsisten, para petani optimis mampu meningkatkan volume produksi secara nasional.

Keberhasilan ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan lokal, tetapi juga menambah devisa negara melalui jalur ekspor non-migas.

“Dukungan teknologi pengolahan menjadi faktor penentu agar talas Indonesia memiliki daya saing yang kuat di kancah internasional,” katanya.

Pos terkait