TABLOIDELEMEN.com – Ketua DPR RI Puan Maharani memberikan catatan kritis terkait kebijakan Pemerintah yang menetapkan sistem work from home (WFH) setiap Jumat bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).
Langkah tersebut bertujuan menghemat Bahan Bakar Minyak (BBM) sebagai respons atas dinamika konflik di Timur Tengah.
Puan menegaskan bahwa menjaga produktivitas pelayanan publik merupakan prioritas utama yang tidak boleh terabaikan.
Puan memandang WFH ASN bukan sekadar soal fleksibilitas ruang kerja bagi pegawai negara.
Menurutnya, ukuran keberhasilan kebijakan ini terletak pada kecepatan negara dalam melayani kebutuhan rakyat.
Fleksibilitas tersebut akan mendapat penilaian langsung dari masyarakat melalui kualitas layanan yang mereka terima setiap hari.
Pemerintah menetapkan kebijakan WFH ASN sebagai salah satu dari delapan transformasi budaya kerja nasional yang bersifat adaptif dan preventif.
Dasar perhitungan kebijakan ini merujuk pada pengalaman sukses penanganan pandemi COVID-19 beberapa tahun silam.
Selain itu, sistem kerja digital menjadi target utama guna meningkatkan efisiensi birokrasi secara menyeluruh.
Masyarakat akan menguji kebijakan WFH setiap Jumat ini melalui parameter yang sangat sederhana dan nyata.
Puan mempertanyakan apakah kecepatan pelayanan publik tetap terjaga saat pola kerja birokrasi mengalami perubahan secara struktural.
“Hal ini menjadi tantangan bagi setiap instansi pemerintah untuk membuktikan kredibilitasnya,” katanya.
Pemilihan hari Jumat sebagai waktu penerapan WFH merujuk pada analisis beban kerja yang cenderung lebih ringan daripada hari-hari lainnya.
Meski mendukung upaya efektivitas dan langkah adaptif Pemerintah, DPR memberi penekanan khusus pada jaminan keberlangsungan layanan administrasi publik.
Dalam konteks tata kerja aparatur negara, publik cenderung abai terhadap lokasi fisik ASN bekerja.
Fokus utama masyarakat tertuju pada penyelesaian dokumen yang tepat waktu serta responsivitas layanan administrasi.
“Kehadiran negara harus tetap terasa secara nyata tanpa ada jeda tambahan yang merugikan warga,” tegasnya.

Menulis itu tidak selalu dengan paragraf-paragraf yang panjang. Menulislah tentang perasaan kita dan tentang apa yang ada dipikiran kita. Tanpa tersadar, kita sesungguhnya telah menulis.
Baca update artikel lainnya di Google Berita


















