TABLOIDELEMEN.com – Langkah Kementerian Keuangan yang tengah menimbang perubahan status PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menjadi bank khusus UMKM memicu diskusi hangat di kalangan pakar ekonomi.
Kebijakan ini bertujuan memperkuat fondasi pembiayaan bagi pelaku usaha kecil.
Namun rencana tersebut membawa tantangan besar yang memerlukan kecermatan tinggi dalam penyusunan desain kelembagaannya.
Chief Economist Perbanas, Dzulfian Syafrian, menilai niat pemerintah tersebut sebenarnya memiliki tujuan positif.
Meski demikian, ia mengingatkan pemerintah agar tetap waspada terhadap potensi inefisiensi yang muncul jika membangun arsitektur baru dari nol.
Pemerintah sebaiknya memaksimalkan infrastruktur yang telah tersedia, seperti jaringan luas Himbara dan lembaga keuangan mikro yang sudah lama mengakar di tengah masyarakat.
Menurutnya, Indonesia sebenarnya sudah memiliki ekosistem pembiayaan mikro dan UMKM yang sangat luas.
Mulai dari koperasi simpan-pinjam, BPR, berbagai lembaga keuangan mikro (LKM) hingga jaringan Himbara.
“Khususnya BRI yang memang memiliki pengalaman dan keahlian panjang di segmen ini,” katanya.
Menyalurkan kredit kepada pelaku UMKM menuntut keahlian khusus yang tidak bisa muncul secara instan.
Dzulfian menyoroti perbedaan mendasar antara mendistribusikan subsidi dengan mengelola pinjaman perbankan.
Menurutnya, mengelola kredit jauh lebih menantang karena melibatkan dana masyarakat yang wajib kembali beserta bunganya secara berkelanjutan.
“Menyalurkan subsidi pada dasarnya adalah mendistribusikan anggaran yang bisa habis pakai. Sedangkan menyalurkan kredit UMKM jauh lebih menantang karena pokok dan bunganya harus kembali,” kata Dzulfian.
Ia menegaskan, alih-alih merombak struktur secara radikal, penguatan ekosistem melalui perbaikan data dan pendampingan usaha menjadi solusi yang lebih logis.
“Karena tanpa pengawasan ketat terhadap kapasitas bayar nasabah, ambisi mengejar inklusi keuangan justru berisiko membebani kas negara dan mengancam stabilitas sistem keuangan nasional di masa depan,” pungkasnya.

Bagi saya yang juga seorang ibu rumah tangga, menulis dapat dijadikan media terapi. Berbagi cerita, mengungkapkan emosi, meredakan stres, dan melepaskan kebosanan.
Baca update artikel lainnya di Google News












