Metode Cara Ngapak Dikenalkan ke Guru Bahasa Jawa dan Seni Budaya di Purbalingga

Para pengajar yang tergabung dalam himpunan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa serta Seni Budaya SMP se-Kabupaten Purbalingga dikenalkan dengan metode CaraNgapak yang menjadi solusi pembelajaran yang lebih mudah, cepat, dan sistematis
Para pengajar yang tergabung dalam himpunan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa serta Seni Budaya SMP se-Kabupaten Purbalingga dikenalkan dengan metode CaraNgapak yang menjadi solusi pembelajaran yang lebih mudah, cepat, dan sistematis

TABLOIDELEMEN.com – Dindikbud Kabupaten Purbalingga menjalin kolaborasi bersama Yayasan Bina Aksara Mulya Yogyakarta serta memperoleh sokongan penuh PLN Mobile.

Kemitraan tersebut bertujuan memperkenalkan metode Cara Ngapak kepada sejumlah dua puluh guru mata pelajaran Bahasa Jawa.

Para pengajar ini tergabung dalam himpunan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa serta Seni Budaya SMP se-Kabupaten Purbalingga.

Kepala Dindikbud Kabupaten Purbalingga, Heru Sri Wibowo, menyatakan bahwa pelatihan ini merupakan pergelaran perdana pada wilayah Purbalingga yang secara khusus mengajarkan cara membaca Aksara Jawa.

Menurut Heru, pelatihan selama waktu dua hari, Rabu 8 Juli 2026 hingga Kamis 9 Juli 2026 memiliki nilai strategis.

Bacaan Lainnya
Milo

Hal ini harapannya dapat menyokong kelestarian budaya sekaligus mendongkrak kompetensi guru saat mengajarkan Aksara Jawa kepada para murid.

Karena saat ini baru sebagian kecil siswa mampu membaca Aksara Jawa secara lancar.

Bahkan, sebagian pengajar Bahasa Jawa maupun pengajar Seni Budaya masih menjumpai tantangan besar kala mengajarkan cara membaca Aksara Jawa secara efektif.

“Karena itu kami berharap metode Cara Ngapak dapat menjadi solusi pembelajaran yang lebih mudah, cepat, dan sistematis,” kata Heru, Kamis 9 Juli 2026.

Metode Cara Ngapak Dikenalkan ke Guru Bahasa Jawa dan Seni Budaya

Heru menaruh harapan besar agar para peserta tidak sekadar memahami konsep metode Cara Ngapak.

Melainkan mampu mempraktikkan secara langsung pada sekolah masing-masing.

Upaya nyata tersebut bertujuan agar proses belajar mengajar Aksara Jawa menjadi jauh lebih menarik bagi siswa.

“Sehingga pembelajaran Aksara Jawa menjadi lebih menarik dan siswa dengan cepat memahami,” tuturnya.

Sementara, Ketua Yayasan Bina Aksara Mulya Yogyakarta, Apri Dhian Purwantoro, menegaskan bahwa guru memegang peran krusial sebagai ujung tombak pelestarian warisan leluhur.

Oleh karena itu, peningkatan kapasitas pengajar menjadi langkah awal agar literasi Aksara Jawa sanggup turun ke generasi muda.

Melalui pelatihan ini, pihaknya rindu membekali guru lewat metode praktis, mudah paham, serta aplikatif agar pembelajaran pada kelas berjalan efektif.

“Harapannya, semakin banyak generasi muda yang mampu membaca dan mencintai Aksara Jawa,” kata Apri.

Sang pencetus metode Cara Ngapak, Akhmad Fikri, memaparkan bahwa cara ini bukan berarti membaca memakai logat banyumasan.

Istilah Cara Ngapak merupakan singkatan dari lima huruf aksara Jawa yaitu Ca, Ra, Nga, Pa, serta Ka.

Menurut Fikri, kendala utama mempelajari aksara Jawa selama ini terletak pada metode kuno yang melulu mengandalkan hafalan luar kepala.

Kali ini, mereka menyuguhkan sistem tanpa perlu menghafal.

Salah satu contoh praktis yakni memulai dari aksara Ca yang memiliki simpul pada bagian kiri bawah serta sudut lancip menghadap ke dalam bagian atas kanan.

“Hanya dengan memainkan bentuk aksara Ca ini secara otomatis dapat menghafal aksara lain,” jelas Fikri.

Fikri menambahkan, proses belajar Aksara Jawa kerap memicu kesan rumit karena tumpuan hafalan lambang yang terlampau banyak.

Lewat sistem Cara Ngapak, peserta menyelisik pola serta bentuk aksara memakai pendekatan nalar visual sehingga lebih gampang paham.

Metode ini sanggup mengubah suasana kelas menjadi lebih menyenangkan, kilat paham, serta membuang kesan rumit.

Peserta tidak sekadar menghafal bentuk huruf belaka.

Menariknya, pelatihan tidak hanya mengupas teknik membaca serta menulis Aksara Jawa, melainkan merambah juga pada penerapan lewat perangkat elektronik atau komputerisasi.

“Tetapi memahami pola dasarnya secara logis sehingga lebih mudah masuk dalam proses belajar mengajar,” pungkas Fikri.

Pos terkait

Milo