Menilik Keunikan dan Akar Sejarah Bahasa Ngapak

Suasana senja yang hangat di Alun-alun Banyumas. Sumber Foto: @ainulghurri99
Suasana senja yang hangat di Alun-alun Banyumas. Sumber Foto: @ainulghurri99

Lebih dekat dengan bahasa Jawa lama

Seorang ahli bahasa, H. Budiono Herusatoto, dalam buku Banyumas: Sejarah, Budaya, Bahasa, dan Watak, menuliskan bahwa bahasa Jawa Solo serta Yogyakarta merupakan bahasa Jawa baku.

Bahasa tersebut telah melewati lima tahap perkembangan sejak zaman Pujangga Baru abad ke-18.

Sebaliknya, Budiono Herusatoto menyebut, “Bahasa Jawa Banyumasan adalah bahasa Jawa tahap awal, atau tahap bahasa Jawadwipa, yang konon adalah bahasa Jawa murni.”

Akar sejarah munculnya Jawa Banyumasan atau Ngapak

Moedjanto dalam buku Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram menjelaskan bahwa kerajaan di Jawa dahulu menerapkan kultur feodalisme.

Antara tahun 1586–1755, Kerajaan Mataram menguasai sebagian besar Pulau Jawa.

Bacaan Lainnya
Milo

Pusat pemerintahan saat itu berada di Yogyakarta serta Surakarta.

Pihak kerajaan memandang budaya dan bahasa sebagai instrumen kekuasaan penting.

Maka, mereka mengembangkan dialek Mataram sebagai cikal bakal bahasa Jawa baku untuk membedakan lingkungan keraton dengan masyarakat luar.

Masyarakat Banyumas dan sekitarnya tidak mengikuti dialek tersebut karena letak geografis yang jauh dari pusat pemerintahan.

Kondisi ini membuat mereka mempertahankan serta mengembangkan dialek sendiri, yakni Jawa Banyumasan.

Tetap Eksis di Era Modern

Walaupun zaman terus berkembang, bahasa Ngapak tetap bertahan dalam keseharian masyarakat.

Generasi muda mulai menunjukkan kebanggaan dengan memakai bahasa ini pada media sosial.

Mereka sering membuat konten video pendek, humor, hingga vlog seperti unggahan akun TikTok @arab_ Ngapak.

Fenomena tersebut membuktikan bahwa Ngapak mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi.

Pada akhirnya, bahasa Ngapak bukan hanya soal cara bicara.

Dialek ini adalah cerminan identitas serta kejujuran masyarakat penuturnya yang patut terjaga.

 

Penulis: Salwa Kamila Agustin, Mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Angkatan  2023 Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

 

Pos terkait

Milo