TABLOIDELEMEN.com – Polres Purbalingga bersama Komunitas Free Fire Purbalingga (KFFPBG) menyelenggarakan Turnamen Free Fire Kapolres Cup 2026.
Sebanyak 600 peserta memadati Aula MAN Purbalingga guna mengikuti kompetisi tersebut pada Minggu 26 April 2026.
Wakapolres Purbalingga, Kompol Agus Amjat Purnomo, meresmikan acara yang bertujuan menyalurkan bakat generasi muda dalam bidang teknologi serta strategi digital.
Menurut Kompol Amjat, e-sport merupakan cabang olahraga resmi yang menuntut disiplin tinggi dan kerja sama tim.
E-Sport bukan lagi sekadar hobi atau main HP semata, namun telah menjadi cabang olahraga resmi yang membutuhkan disiplin tinggi, kerja sama tim, kecepatan berpikir dan sportivitas yang luar biasa
“Kami berharap ajang ini mampu melahirkan atlet profesional yang sanggup membawa nama baik daerah menuju kancah nasional maupun internasional,” katanya.
Bina Bakat Muda
Wakapolres menitipkan pesan agar para pemuda senantiasa bijak dalam bermedia sosial serta menjauhi narkoba.
“Kepada para peserta saya titip pesan agar junjung tinggi sportivitas, bijak dalam bermedia sosial dan menghindari judi online dan narkoba,” tegasnya.
Ketua Panitia Turnamen, Sandavaizal, turut menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya acara yang megah tersebut.
“Semoga setelah event ini, muncul bibit-bibit baru E-Sport Game Free Fire dari Kabupaten Purbalingga agar bisa membawa nama baik Purbalingga,” kata Sandavaizal.
Deklarasi Keamanan Digital
Menurutnya kompetisi ini tidak hanya berfokus pada kemenangan semata, melainkan juga pada pembentukan karakter peserta.
Seluruh peserta mengikuti pembacaan Deklarasi Kamtibmas sebagai bentuk komitmen menjaga ketertiban masyarakat.
Para pemain berjanji menjunjung tinggi kejujuran, menolak segala bentuk judi online, serta mencegah penyebaran hoaks di ruang digital.
Karena turnamen ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kebersamaan sekaligus membangun mentalitas juara yang bertanggung jawab di kalangan remaja Purbalingga.
“Kami sepakat mendukung Polri dalam menciptakan situasi kondusif melalui pemanfaatan teknologi secara produktif,” katanya.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google Berita

















