Peluang Produktivitas dan Risiko Etika AI Media
Otomatisasi teknologi mempercepat arus informasi serta memperluas inovasi kreatif industri media.
Namun, keuntungan besar ini datang bersama ancaman serius seperti bias algoritma, deepfake, hingga pelanggaran hak cipta.
Kehadiran rekayasa visual maupun teks buatan mesin berpotensi mengikis tingkat kepercayaan publik secara tajam.
Tegar menegaskan bahwa kemajuan pesat teknologi harus selalu beriringan dengan tata kelola yang transparan.
“Teknologi dapat meningkatkan produktivitas media secara signifikan. Tetapi pada saat yang sama menghadirkan kompleksitas etik baru. Karena itu, kemajuan AI perlu dapat imbangan dengan tata kelola yang bertanggung jawab,” ujarnya.
Kendali Manusia dan Masa Depan Industri Kreatif
Gagasan Responsible AI Governance menjadi kunci utama untuk menjaga integritas jurnalistik serta kredibilitas media.
Organisasi media perlu menerapkan pengawasan manusia guna memastikan setiap produk informasi tetap akurat serta mematuhi aturan regulasi.
Perguruan tinggi juga memegang peran strategis untuk melatih mahasiswa agar memiliki daya kritis dalam memanfaatkan teknologi.
“Masa depan media bukan tentang manusia melawan AI, tetapi manusia bersama AI yang bertanggung jawab.
Karena, secanggih apa pun teknologi, keputusan yang menyangkut kebenaran, kepentingan publik dan tanggung jawab sosial tidak boleh sepenuhnya dilepaskan dari manusia
“Saya mengingatkan pentingnya kesadaran etis bagi para calon pekerja kreatif. Mahasiswa hari ini akan masuk ke industri yang sangat berbeda dari satu dekade lalu,”katanya.
“Mereka harus mampu menggunakan AI, tetapi yang jauh lebih penting adalah mengetahui kapan, mengapa, dan sampai batas mana teknologi tersebut digunakan. Kreativitas masa depan membutuhkan kecerdasan teknologi sekaligus kecerdasan etik,” pungkasnya.

Awali dengan kepedulian, niscaya akan menjadi gagasan dalam menulis.
Baca update artikel lainnya di Google Berita























