TABLOIDELEMEN.COM – Migrant Resource Center Universitas Muhammadiyah Purwokerto menggelar seminar motivasi bagi Calon Pekerja Migran Indonesia di Aula Syamsuhadi Irsyad.
Kegiatan bertema keberangkatan lulusan SMK menuju pasar kerja global ini menghadirkan Direktur Pemetaan Pasar Kerja Luar Negeri KP2MI, Devriel Sogia.
Penyelenggara merancang agenda tersebut guna menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing pada kancah internasional secara profesional.
Direktur MRC UMP sekaligus Wakil Rektor IV UMP, Assoc. Prof. Akhmad Darmawan, mendorong peserta mengubah wawasan bekerja ke luar negeri.
“Tidak hanya mencari uang, tetapi mencari pengalaman, mencari ilmu. Go internasional, bisa memahami budaya tempat kerja,” katanya
“Terpenting ketika pulang nanti bisa menjadi berdaya, menjadi pengusaha-pengusaha muda yang nantinya akan mampu menyediakan lapangan pekerjaan bagi orang lain,” imbuh Akhmad Darmawan.
Strategi MRC UMP Mempersiapkan Pekerja Migran Indonesia Competent
Lembaga tersebut terus mendampingi pekerja purna tugas agar bertransformasi menjadi wirausahawan mandiri.
Pendirian MRC UMP sejak 2024 bertujuan memberikan edukasi berkelanjutan bagi pekerja aktif maupun alumni.
Inisiatif ini menanamkan rasa percaya diri pada generasi muda mengenai keterampilan serta etos kerja tinggi.
Sementara itu, Devriel Sogia membeberkan tantangan penyesuaian diri di negara tujuan, khususnya wilayah
Eropa empat musim. Ia mengingatkan peserta agar mengantisipasi lonjakan suhu ekstrem saat musim panas maupun musim dingin.
“Kalau musim panas, pasti lebih panas dari Indonesia. Di sana bisa sampai 40 derajat,” ungkap Devriel saat menjelaskan tantangan iklim.
Ia membandingkan suhu dingin Purwokerto pada kisaran 15 hingga 20 derajat dengan kondisi ekstrem kawasan Eropa.
Selain faktor cuaca, Devriel memaparkan pentingnya pemahaman budaya lokal demi menghindari kesalahpahaman sosial.
Contohnya kebiasaan ibadah pekerja perempuan, jangan menggunakan mukena berwarna putih polos saat salat di luar negeri.
“Bisa menimbulkan salah paham karena ada anggapan seperti hantu. Alternatif, gunakanlah mukena yang memiliki corak seperti motif polkadot,” tegasnya.
Penyelenggaraan acara ini membekali peserta secara menyeluruh mencakup wawasan global, kesiapan mental, hingga kemandirian ekonomi purna tugas.

Bagi saya yang juga seorang ibu rumah tangga, menulis dapat dijadikan media terapi. Berbagi cerita, mengungkapkan emosi, meredakan stres, dan melepaskan kebosanan.
Baca update artikel lainnya di Google News























