Proses regenerasi menjadi fokus utama dalam strategi pelestarian ini.
Mardjoko mengapresiasi keterlibatan anak muda yang mulai menekuni seni wayang kulit, meskipun usia mereka masih berkisar belasan hingga 20-an tahun.
Keterlibatan aktif generasi baru ini dianggap sebagai jembatan yang menghubungkan nilai masa lalu dengan masa depan.
“Yang muda-muda ini kita dorong. Ada yang baru 15 tahun, ada yang 20 tahun. Ini penting supaya tidak putus,” katanya dengan nada optimistis.
Pagelaran Babat Kalisrayu sendiri memuat pesan mendalam mengenai kepemimpinan dan filosofi hidup pembukaan wilayah Serayu.
Mardjoko menekankan bahwa pola pembelajaran budaya kini harus lebih fleksibel dan adaptif.
Metode spontan atau “dadakan” sering kali lebih efektif menarik minat kaum milenial dan Gen Z dibandingkan pendekatan formal yang kaku.
“Yang penting mereka tertarik dulu, kita lihat keterampilannya, lalu kita arahkan. Tidak harus langsung formal,” tambahnya mengakhiri pembicaraan.

Satu di antara cara untuk mendapatkan hasil menulis yang maksimal adalah dengan melihatnya sebagai sebuah petualangan.
Hanya dengan berpetualangan, saya mengetahui dan menemukan keberagaman materi tulisan.
Baca update artikel lainnya di Google Berita


















