TABLOIDELEMEN.com – Desa Kaliori di Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas kini menjadi simbol peradaban baru dalam mengelola limbah.
Masyarakat mengubah sampah sebagai aset ekonomi mengandalkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Berbasis Lingkungan dan Edukasi (BLE).
Melalui program inovatif bertajuk “Sumpah Beruang” (Sulap Sampah Berubah Jadi Uang), mereka cukup memilah sampah dari rumah, melaporkannya melalui aplikasi digital.
Untuk menanti berubah menjadi insentif ekonomi yang nyata.
Kepala UPTD TPST Banyumas, Edy Nugroho, menegaskan bahwa efisiensi menjadi kunci utama dalam model ini.
Dengan melibatkan 59 Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) di tingkat desa dan kelurahan, rantai pengelolaan sampah menjadi lebih pendek dan bertenaga.
“Kami mengolah sampah organik, memanfaatkan sampah anorganik, dan memproses residu menjadi Refuse Derived Fuel (RDF),” tutur Edy.
Prinsipnya sederhana namun berdampak massif, semua sampah yang masuk harus memiliki output yang bernilai guna.
“Jadi Tidak ada ruang bagi sampah untuk sekadar menumpuk dan mencemari bumi,” katanya.
TPST BLE ini merupakan fasilitas ini yang bukan hanya tempat membuang sampah, melainkan pabrik kreativitas yang mengusung misi besar: Zero Waste to Landfill.
Dedikasi ini membuahkan hasil yang manis. Selain meraih Piala Adipura di tingkat nasional, Banyumas sukses membawa pulang penghargaan ASEAN Environmentally Sustainable Cities (ESC) Award 2025.
Kini, mata pemerintah pusat pun tertuju pada Banyumas, menetapkannya sebagai daerah percontohan yang wajib ditiru oleh wilayah lain di Indonesia.

Satu di antara cara untuk mendapatkan hasil menulis yang maksimal adalah dengan melihatnya sebagai sebuah petualangan.
Hanya dengan berpetualangan, saya mengetahui dan menemukan keberagaman materi tulisan.
Baca update artikel lainnya di Google Berita

















