Dongkrak Ekonomi Purbalingga
Fahmi meyakini bahwa konsep terpadu itu akan memperkuat posisi kawasan Gunung Slamet sebagai destinasi unggulan Jawa Tengah.
Langkah strategis ini otomatis meningkatkan lama tinggal wisatawan sekaligus memutar roda ekonomi masyarakat sekitar secara masif.
Ia juga mehohon doa agar Desa Serang, Kutabawa, dan Siwarak semakin maju, berkembang, dan mampu menghadirkan event-event yang lebih baik.
“Dan semoga FGS ke-10 pada 2027 bisa lebih meriah dan mendatangkan bintang tamu yang luar biasa,” tutur Fahmi.
Kesuksesan festival ini memicu respons positif dari pemerintah pusat.
Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara III Kementerian Pariwisata RI, Indera Dewantho, menilai Festival Gunung Slamet memiliki kekuatan utama pada keterpaduan budaya, alam, dan partisipasi masyarakat.
Menurut pandangan Indera, keunggulan tersebut menjadi modal penting dalam membangun desa wisata berbasis komunitas.
“Festival ini bukan sekadar ruang ekspresi budaya. Tetapi juga instrumen pemberdayaan masyarakat yang membuka peluang usaha, meningkatkan perputaran ekonomi, memperluas promosi produk lokal, serta memperkuat citra pariwisata berbasis desa dan alam,” kata Indera.
Keberhasilan Festival Gunung Slamet menembus Kharisma Event Nusantara (KEN) untuk tahun ketiga berturut-turut menjadi bukti nyata.
Festival ini terbukti memenuhi standar kurasi nasional Kementerian Pariwisata.
Sekaligus mempertegas posisinya sebagai salah satu agenda wisata unggulan Indonesia.
Memanfaatkan momentum berharga tersebut, Kementerian Pariwisata menyerahkan piagam KEN kepada Bupati Purbalingga, yang selanjutnya meneruskan penghargaan itu kepada Kepala Desa Serang, Sugito.
Acara meriah ini turut menghadiri Wakil Bupati Purbalingga Dimas Prasetyahani beserta istri, Ketua TP PKK, jajaran Forkopimda, kepala OPD, serta ribuan masyarakat yang memadati kawasan D’Las Serang.

Awali dengan kepedulian, niscaya akan menjadi gagasan dalam menulis.
Baca update artikel lainnya di Google Berita



















