TABLOIDELEMEN.com – Festival Gunung Slamet (FGS) ke-9 tahun 2026 mengusung tema Culture and Nature.
Tema ini merepresentasikan harmoni antara warisan budaya serta kekayaan alam lereng Gunung Slamet.
Masyarakat pun menunjukkan komitmen kuat menjaga tradisi luhur seperti Ruwat Bumi Tuk Sikopyah, kesenian tradisional, dan kearifan lokal yang hidup berdampingan dengan kelestarian alam.
Rangkaian acara berlangsung selama tiga hari, mulai 3 hingga 5 Juli 2026.
Panitia menyuguhkan beragam agenda budaya serta wisata menarik.
Seperti gelar seni desa wisata se-Kabupaten Purbalingga, pengambilan air Tuk Sikopyah, prosesi Merti Bumi, kirab budaya, dan tari kolosal Gunung Slamet.
Selain itu, pengunjung dapat menikmati pertunjukan budaya lintas kabupaten, Tomato Splash, serta berbagai atraksi lainnya.
Pihak penyelenggara pun menghadirkan hiburan musik melalui penampilan grup Parade Hujan dalam acara Akustik Kabut Lembut.
Kepala Desa Serang, Sugito, menyatakan bahwa FGS tahun ini melibatkan sedikitnya 15 desa wisata se-Kabupaten Purbalingga.
Beberapa di antaranya meliputi Desa Wisata Karangpucung, Panusupan, Tanalum, hingga Limbasari.
Desa-desa tersebut membuka stan promosi produk unggulan serta potensi wisata masing-masing guna menarik minat para wisatawan.
Ia berharap, keikutsertaan desa-desa wisata ini dapat memperkuat kolaborasi antardestinasi.
“Sekaligus memperkenalkan potensi wisata Purbalingga secara lebih luas kepada para pengunjung,” kata Sugito.
Seluruh rangkaian festival ini mencerminkan semangat masyarakat dalam mempromosikan pesona daerah.
Upaya kolaboratif tersebut mempertegas posisi Purbalingga sebagai destinasi unggulan yang memadukan keindahan alam dengan kekayaan budaya lokal.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google Berita


















