TABLOIDELEMEN.com – Kabut tipis perlahan turun menyelimuti lereng Gunung Slamet saat petikan gitar Is, vokalis Parade Hujan, memecah dinginnya malam.
Momen tersebut menandai mulainya panggung Akustik Kabut Lembut Festival Gunung Slamet di kompleks D’Las Serang, Kecamatan Karangreja, Sabtu 4 Juli 2026
Permainan lampu panggung, udara pegunungan yang menusuk, serta lautan penonton seketika menciptakan suasana syahdu yang terasa begitu romantis.
Grup musik yang sebelumnya bernama Payung Teduh tersebut langsung menyihir puluhan ribu penonton lewat lagu Kucari Kamu.
Sorak penonton bergemuruh, lalu berganti menjadi koor panjang yang mengikuti setiap bait lagu.
Tanpa memberi ruang jeda, Is dan kawan-kawan membawa penonton menelusuri lorong kenangan melalui karya-karya populer mereka.
Seperti APH, Berdua Saja, Atas Meja, Datang, hingga Selalu Muda.
Sebagian penonton larut bernyanyi sambil merangkul pasangan, sementara sebagian lainnya sekadar menikmati alunan musik yang berpadu dengan kabut kaki Gunung Slamet.
Nuansa romantis semakin terasa kuat ketika Resah, Menuju Senja, dan Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan mengalun indah.
Lagu-lagu yang telah menjadi lagu tema perjalanan cinta banyak orang itu membawa penonton tenggelam dalam nostalgia.
Pada akhirnya, malam yang syahdu tersebut mencapai puncak lewat lagu Akad, yang menggema serempak dari ribuan suara penonton sebagai penutup yang sempurna.
Melalui kesuksesan tersebut, Akustik Kabut Lembut nyatanya bukan sekadar konser musik biasa.
Acara ini menjadi etalase nyata mengenai cara kekuatan alam, budaya, dan seni mampu menjadi magnet wisata andalan Pemerintah Kabupaten Purbalingga.
Secara keseluruhan, Festival Gunung Slamet ke-9 ini berlangsung selama tiga hari, sejak tanggal 3 hingga 5 Juli 2026.
Usai malam romantis bersama Parade Hujan, panitia mengakhiri rangkaian festival pada Minggu 5 Juli 2026 lewat penampilan Suaraloka Gunung Slamet serta berbagai agenda budaya lain.
Seluruh rangkaian acara sukses menegaskan festival ini sebagai wajah baru pariwisata lereng Gunung Slamet.

Awali dengan kepedulian, niscaya akan menjadi gagasan dalam menulis.
Baca update artikel lainnya di Google Berita



















