TABLOIDELEMEN.com – Sebanyak 555 guru Pendidikan Agama Islam (PAI) mengikuti seminar bertajuk “Transformasi Pembelajaran PAI Berbasis Cinta” di Pendopo Dipokusumo, Rabu 6 Mei 2026
Kegiatan kolaborasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga, Kementerian Agama Purbalingga, dan Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII)
Serta, KKG PAI, MGMP PAI SMP, SMA, dan SMK menjadi rangkaian acara peringatan Hari Pendidikan Nasional Kabupaten Purbalingga guna membangun generasi berkarakter pada era digital.
Ketua panitia, Sujatno, menjelaskan bahwa seminar ini merespons disrupsi teknologi yang mengubah pola hidup masyarakat.
Menurut Sujatno, guru perlu mengubah cara mengajar agar tidak terpaku pada hafalan semata.
“Pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga harus membangun karakter, empati, dan keteladanan bagi siswa,” ungkap Sujatno.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Suroto, mewakili Bupati Purbalingga Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif menekankan pentingnya menyiapkan masa depan daerah melalui cara baru yang relevan.
“Transformasi berarti perubahan besar dan menyeluruh menuju cara baru yang lebih relevan dengan perkembangan zaman,” tegas Suroto.
Bangun Generasi Berkarakter Berbasis Cinta
Sejalan dengan hal itu, Kepala Dindikbud Kabupaten Purbalingga, Heru Sri Wibowo, menyoroti perlunya pergeseran paradigma.
Heru merasa selama ini pendidikan agama masih menitikberatkan pada angka.
“Pendidikan agama selama ini masih terlalu berfokus pada hafalan dan capaian angka,” tuturnya.
Bagi Heru, PAI merupakan ruh pendidikan yang tolok ukur keberhasilannya terlihat dari perilaku nyata siswa, bukan sekadar nilai rapor.
Oleh karena itu, para pengajar harus mengedepankan pendekatan humanis.
“Tentunya dengan mengedepankan empati serta keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar,” pungkas Heru.
Sementara, Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Purbalingga, Priyanto, menekankan pentingnya pembelajaran berbasis cinta dalam dunia pendidikan.
Konsep ini muncul sebagai solusi atas kegelisahan pendidik mengenai perilaku siswa masa kini.
Meskipun banyak siswa memahami ajaran agama secara teori, mereka sering kali belum mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Priyanto berpendapat bahwa proses belajar harus menyentuh aspek pengetahuan, sikap, serta keterampilan secara utuh.
Hal tersebut menuntut penerapan metode deep learning agar nilai-nilai pendidikan meresap ke dalam jiwa siswa.
“Karakter tidak lahir dari ujian, tetapi dari pembiasaan,” ungkap Priyanto

Menulis itu tidak selalu dengan paragraf-paragraf yang panjang. Menulislah tentang perasaan kita dan tentang apa yang ada dipikiran kita. Tanpa tersadar, kita sesungguhnya telah menulis.
Baca update artikel lainnya di Google Berita












