TABLOIDELEMEN.com – Masyarakat Jawa menyambut pergantian tahun baru Jawa atau malam satu Suro dengan penuh khidmat.
Momen ini memiliki makna spiritual yang sangat mendalam bagi segenap warga dari berbagai lapisan generasi.
Mereka memandang waktu transisi tersebut sebagai saat yang tepat untuk melakukan refleksi diri serta memohon keselamatan.
Ritual tapa bisu menjadi salah satu prosesi paling ikonik yang mencerminkan laku prihatin tersebut.
Para pelaku ritual berjalan mengelilingi kawasan sakral tanpa mengucap sepatah kata pun sepanjang malam.
Sikap mengunci mulut ini melambangkan upaya manusia dalam mengendalikan hawa nafsu serta mengevaluasi segala perbuatan pada masa lalu.
Selain keheningan, sebagian warga memilih melaksanakan prosesi larung sesaji pada wilayah perairan atau pegunungan.
Masyarakat melarung aneka hasil bumi sebagai perwujudan rasa syukur yang mendalam atas kelimpahan rezeki.
Kehadiran ribuan orang dalam ritual tersebut sekaligus mempererat tali persaudaraan sesama warga yang memadati lokasi acara.
Warisan leluhur ini tetap eksis dan lestari di tengah derasnya arus modernisasi zaman.
Nilai-nilai luhur serta muatan moral dalam setiap helatan terus mengalir ke sanubari generasi muda.
Pada akhirnya, perayaan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan tiang penyangga identitas budaya yang memperkokoh jati diri bangsa.

Satu di antara cara untuk mendapatkan hasil menulis yang maksimal adalah dengan melihatnya sebagai sebuah petualangan.
Hanya dengan berpetualangan, saya mengetahui dan menemukan keberagaman materi tulisan.
Baca update artikel lainnya di Google Berita


















