TABLOIDELEMEN.com – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin 5 Oktober 2026 sore ini.
Rupiah turun 35 poin atau 0,20 persen ke level Rp17.917 per dolar AS.
Posisi tersebut melemah dari penutupan sebelumnya yang berada pada level Rp17.882 per dolar AS.
Pergerakan rupiah berlangsung saat mata uang kawasan Asia menunjukkan arah yang beragam.
Pergantian kepemimpinan di Kementerian Keuangan belum mampu memberikan penguatan cepat bagi rupiah terhadap dolar AS.
Pelemahan rupiah turut menjadi perhatian setelah Menteri Keuangan (Menkeu) Republik Indonesia Suahasil Nazara resmi menjabat pada 14 September 2026.
Ia menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa dalam posisi tersebut.
Pasar masih menghadapi tekanan eksternal yang kuat, terutama dari pergerakan indeks dolar AS dan harga minyak dunia.
Rupiah Melemah Saat Dolar AS Menguat
Indeks dolar AS mencapai level tertinggi dalam 18 bulan. Kondisi tersebut memperbesar tekanan terhadap rupiah sekaligus sejumlah mata uang Asia lainnya.
“Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS, tertekan oleh kenaikan indeks dolar AS ke level tertinggi dalam 18 bulan. Penguatan dolar AS terutama didorong pelemahan euro akibat kekhawatiran fiskal serta kenaikan harga minyak dunia,” kata Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.
Kenaikan harga minyak dunia turut memengaruhi sentimen pasar global. Investor juga mencermati kondisi ekonomi dan aktivitas bisnis Amerika Serikat untuk menentukan arah perdagangan mata uang berikutnya.
Sementara itu, sejumlah mata uang Asia justru mencatat penguatan.
Dolar Taiwan memimpin kenaikan sebesar 0,27 persen, kemudian yen Jepang menguat 0,13 persen.
Rupee India naik 0,02 persen, sedangkan dolar Hong Kong bergerak positif 0,008 persen.
Perbedaan kinerja tersebut menunjukkan tekanan terhadap mata uang Asia berlangsung secara tidak merata.
Prospek Rupiah Masih Menghadapi Tekanan
Di sisi lain, baht Thailand menjadi mata uang Asia dengan pelemahan terbesar setelah turun 0,34 persen.
Won Korea Selatan menyusul dengan penurunan 0,30 persen.
Dolar Singapura melemah 0,17 persen, peso Filipina turun 0,14 persen, sementara ringgit Malaysia terkoreksi 0,09 persen.
Pergerakan nilai tukar rupiah berpotensi melanjutkan tren penurunan.
Pelaku pasar masih mencermati perkembangan aktivitas bisnis dan kondisi ekonomi di Amerika Serikat.
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor penting yang perlu pasar perhatikan dalam perdagangan selanjutnya.
Selain itu, perkembangan harga minyak dunia dan sentimen fiskal di Eropa dapat memengaruhi arah mata uang global.
Kondisi tersebut membuat ruang penguatan rupiah masih menghadapi tantangan.
Pelaku pasar akan terus mengamati berbagai indikator ekonomi global sebelum menentukan strategi perdagangan berikutnya.

Meletakkan literasi digital menjadi urgensi, sebagai upaya transformasi untuk menghasilkan talenta digital dan menjadi rujukan informasi yang ramah anak, aman tanpa konten negatif.
Baca update artikel lainnya di Google News



















