TABLOIDELEMEN.com – Ekspansi kepesertaan Piala Dunia menjadi 48 tim memicu lonjakan jumlah pertandingan dari 64 menjadi 104 laga.
Perubahan besar ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pakar dan penggemar mengenai potensi penurunan mutu persaingan sepanjang turnamen berlangsung.
Sistem baru tersebut mempermudah langkah tim menuju fase gugur karena babak 32 besar mulai berlaku.
Selain dua tim teratas dari 12 grup penyisihan, delapan tim peringkat ketiga terbaik juga akan mengamankan tiket kelolosan.
Sebagian pengamat menilai reformasi ini bermotif politik demi memperkuat basis kekuasaan Gianni Infantino, mengingat federasi sepak bola kecil yang memiliki hak suara besar di FIFA menjadi pihak paling beruntung.
Di sisi lain, turnamen kali ini menghadapi kritik tajam terkait dampak lingkungan, meskipun FIFA kerap mengampanyekan isu keberlanjutan.
Jarak yang sangat jauh antar-kota tuan rumah memicu tingginya kebutuhan perjalanan udara.
Sejumlah studi memperkirakan ajang ini menghasilkan lebih dari sembilan juta ton karbon dioksida.
Kondisi tersebut membuat organisasi lingkungan menyebut ajang ini berpotensi menjadi “Piala Dunia paling merusak iklim” dalam sejarah.
Masalah sarana transportasi lokal juga memperparah situasi bagi para penonton.
Lokasi stadion yang berada di pinggiran kota sering kali minim transportasi umum, bahkan sebagian tarifnya melonjak drastis.
Sebagai contoh, harga tiket kereta dari New York menuju Stadion MetLife sempat menyentuh angka 150 dolar AS (sekitar Rp2,7 juta) dari tarif normal yang hanya 13 dolar AS (sekitar Rp234 ribu).
Penyelenggara akhirnya memotong harga menjadi 98 dolar AS (sekitar Rp1,76 juta) setelah menerima gelombang protes dari suporter.
Bagi penonton pengguna mobil pribadi, biaya parkir kendaraan juga sangat tinggi karena berkisar antara 75 hingga 300 dolar AS (sekitar Rp1,3 juta hingga Rp5,4 juta).
Berbagai persoalan tersebut memicu kekecewaan mendalam terhadap kebijakan badan sepak bola dunia.
Para pengkritik mengatakan semua ini menunjukkan bahwa meski FIFA punya janji soal iklim, banyak penggemar tetap akan terpaksa melakukan perjalanan yang merusak lingkungan dan mahal.

Menulis itu tidak selalu dengan paragraf-paragraf yang panjang. Menulislah tentang perasaan kita dan tentang apa yang ada dipikiran kita. Tanpa tersadar, kita sesungguhnya telah menulis.
Baca update artikel lainnya di Google Berita
















