Panduan Muhasabah Melalui Doa Akhir 1447 Hijriah dan Awal Tahun 1448 Hijriah

Panduan Muhasabah Melalui Doa Akhir 1447 Hijriah dan Awal Tahun 1448 Hijriah
Panduan Muhasabah Melalui Doa Akhir 1447 Hijriah dan Awal Tahun 1448 Hijriah

TABLOIDELEMEN.com – Umat Islam kini menyambut tahun baru Islam 1448 Hijriah.

Momen penting ini menjadi waktu paling tepat untuk melaksanakan refleksi diri (muhasabah) atas segala perbuatan masa lalu sekaligus memanjatkan harapan baik pada masa depan.

Rasulullah SAW menganjurkan umatnya agar menutup tahun lama dan membuka tahun baru dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT.

Langkah tersebut menjadi wujud nyata rasa syukur, permohonan ampunan, serta pengharapan atas ridha-Nya.

Para ulama, mengutip penjelasan dari NU Online, menyarankan waktu khusus untuk melafalkan doa akhir dan awal tahun.

Bacaan Lainnya
Milo

Umat Islam sebaiknya membaca doa-doa tersebut sebanyak tiga kali.

  • Doa Akhir Tahun: Umat Islam dapat melafalkannya sebanyak 3 kali pada hari terakhir bulan Dzulhijjah sebelum waktu salat Maghrib tiba.
  • Doa Awal Tahun: Umat Islam dapat melafalkannya sebanyak 3 kali pada malam 1 Muharram setelah menunaikan salat Maghrib.

Melafalkan doa awal tahun sebanyak tiga kali membawa keutamaan yang sangat luar biasa.

Mengenai hal ini, KH Sholeh Darat menjelaskan, barangsiapa membaca doa ini tiga kali di awal bulan Muharram setelah salat Maghrib

“Maka sesungguhnya setan itu mengucapkan bahwa anak Adam ini sudah aman dalam sisa umurnya selama setahun itu,” tuturnya

“Sebab Allah SWT memberikan dua malaikat untuk menjaganya agar tidak tergoda setan,” katanya.

Panduan Muhasabah

Selanjutnya, umat Islam melafalkan doa akhir tahun sebagai permohonan ampunan atas segala dosa serta kekhilafan sepanjang tahun.

Kitab Maslakul Akhyar karya Habib Utsman bin Yahya memuat bacaan doa tersebut sebagai berikut:

اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِ​​​​يْ وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ

Allâhumma mâ ‘amiltu min ‘amalin fî hâdzihi sanati mâ nahaitanî ‘anhu, wa lam atub minhu wa hamalta fîhâ ‘alayya bi fadhlika ba‘da qudratika ‘alâ ‘uqûbatî

Wa da‘autanî ilat taubati min ba‘di jarâ’atî ‘alâ ma‘shiyatik.

Fa innî astaghfiruka, faghfirlî wa mâ ‘amiltu fîhâ mimmâ tardhâ, wa wa‘attanî ‘alaihits tsawâba, fa’as’aluka an tataqabbala minnî wa lâ taqtha‘ rajâ’î minka yâ karîm.

Artinya: “Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu

Sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat-sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Tuhanku

Aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah kau membuatku putus asa. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.”

 

 

Pos terkait

Milo