TABLOIDELEMEN.com – Direktur Program Minikino Film Week, Fransiska Prihadi, mendarat kembali di Bali pada Sabtu 7 Februrai 2026 usai menuntaskan misi internasional di Eropa.
Selama sepekan penuh, ia mengikuti rangkaian diskusi industri dan pemutaran karya pada ajang Clermont-Ferrand International Short Film Festival (CFISFF) 2026 di Prancis.
Perjalanan ini menjadi langkah krusial dalam memperluas jejaring global serta menyusun peta jalan baru bagi festival film pendek internasional di Bali tersebut.
Sebelum menyambangi Prancis, Fransiska terlebih dahulu menghadiri Vilnius Short Film Festival di Lithuania.
Partisipasi aktif Minikino dalam dua ajang bergengsi ini membuktikan ambisi besar Indonesia untuk terus bersaing pada level dunia.
Tahun 2026 mencatatkan sejarah baru karena Asia Tenggara untuk pertama kalinya menempati posisi sebagai fokus kawasan utama dalam festival film pendek terbesar sejagat tersebut.
Dalam ajang CFISFF, program Indonesian Entourage: A Sleeping Giant mencuri perhatian para profesional industri.
“Sesi market screening ini menyuguhkan enam film pendek pilihan yang menonjolkan keberanian narasi serta kematangan kualitas produksi,” kata Fransiska.
Fransiska Prihadi selaku kurator menegaskan bahwa film pendek Indonesia kini telah bertransformasi dari sekadar tugas akademis menjadi ruang eksplorasi seni yang prestisius.
Film-film yang terpilih memiliki nilai tawar yang relevan dan diminati oleh industri internasional.
“Sebagian film pendek yang terpilih merupakan karya produksi program Layar Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia,” kata Fransiska saat memberikan keterangan mengenai standar seleksi karyanya.
Selain sesi pasar film, karya berjudul One Tropical Rain of Love and Guilt produksi Kawan Kawan Media sukses menembus kompetisi internasional.
Film hasil kolaborasi lintas negara antara Indonesia, Myanmar, dan Thailand ini mempertegas potensi kerja sama produksi regional.
Sejumlah karya lain seperti Basri and Salma in a Never-Ending Comed.
Serta Ragadi Maparo juga tampil dalam program fokus Asia Tenggara, memperkuat eksistensi sinema nusantara di mata penonton global.
Eksistensi Indonesia semakin solid melalui kehadiran booth khusus Asia Tenggara hasil kerja sama dengan The Asian Film Alliance Network (AFAN).
Lembaga ini merupakan wadah kemitraan badan perfilman nasional dari berbagai negara seperti Korea Selatan, Malaysia, hingga Taiwan.
Dukungan penuh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya menjadi kunci utama keberangkatan delegasi tanah air menuju panggung dunia ini.

Bagi saya yang juga seorang ibu rumah tangga, menulis dapat dijadikan media terapi. Berbagi cerita, mengungkapkan emosi, meredakan stres, dan melepaskan kebosanan.
Baca update artikel lainnya di Google News


















