TABLOIDELEMEN.com – Minikino, organisasi film pendek berbasis Bali, kembali memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem film global.
Direktur Program Minikino, Fransiska Prihadi, berpartisipasi aktif dalam festival film pendek bergengsi REGARD, Saguenay International Short Film Festival, Québec, Kanada, Maret 2026.
Kunjungan strategis yang mendapat dukungan penuh Pemerintah Québec serta Kedutaan Besar Kanada di Indonesia ini membuka berbagai peluang kolaborasi konkret.
Salah satu hasil nyata yaitu undangan bagi Mélissa Bouchard, Kepala Divisi Programming REGARD, untuk menjadi anggota dewan juri Minikino Film Week 12.
Agenda tersebut berlangsung di Bali pada 11-18 September 2026.
Selama berada di Québec, Fransiska terlibat dalam berbagai kegiatan industri, termasuk sesi The Donut Network dan Meet the Filmmakers.
Ia berinteraksi langsung dengan para pembuat film, distributor, dan institusi budaya internasional seperti Festival du Nouveau Cinéma serta Le FIFA.
Menurut Fransiska, partisipasi ini lebih dari sekadar meningkatkan visibilitas film pendek Indonesia.
“Tetapi juga memposisikan Minikino sebagai mitra strategis dan jembatan budaya antara ekosistem film Asia Tenggara dan Amerika Utara,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Senin 27 April 2026.
Tantangan Dukungan Domestik
Ia mengatakan, pencapaian internasional ini membawa angin segar bagi visi Kota Denpasar yang tengah merancang kota ramah film.
Namun, keberhasilan global ini menjadi catatan penting bagi sinergi dukungan domestik.
Mobilitas internasional dari Denpasar menuju Québec mencerminkan komitmen besar dalam membangun dialog budaya lintas kawasan.
“Dukungan institusional dari pihak luar, dalam hal ini langsung dari Pemerintah Québec sangatlah luar biasa dalam mewujudkan pertukaran ini,” tegasnya.
Ambisi menjadikan Denpasar pusat kreativitas film membutuhkan perhatian lebih serius dari pemerintah kota maupun pemerintah pusat.
Karena, sangat sayang apabila prestasi yang mengharumkan nama bangsa di kancah internasional lebih banyak mendapat pengakuan serta dukungan nyata dari pihak asing daripada rumah sendiri.
Dukungan konkret pemerintah bukan sekadar kebutuhan finansial, melainkan pengakuan bahwa inisiatif lokal seperti Minikino adalah aset strategis nasional.
“Aset tersebut perlu dorongan guna mewujudkan ekosistem film berkelanjutan serta inklusif,” katanya.
Fransiska menegaskan, selain pertukaran juri, Minikino juga sedang menjajaki program Québec Cinema in Southeast Asia/Indonesia.
Program tersebut membawa kurasi film pendek Québec ke hadapan penonton Indonesia melalui format pemutaran inklusif dan edukatif.
“Langkah ini memperkuat peran Minikino sebagai konsultan pemrograman internasional,” katanya.
Ia menegaskan, upaya tersebut menjadi fondasi kuat bagi kerja sama jangka panjang tahun 2026-2027.
“Hal ini membuktikan bahwa film pendek adalah medium diplomasi budaya yang efektif dan berdaya saing tinggi,” pungkas Fransiska Prihadi.

Meletakkan literasi digital menjadi urgensi, sebagai upaya transformasi untuk menghasilkan talenta digital dan menjadi rujukan informasi yang ramah anak, aman tanpa konten negatif.
Baca update artikel lainnya di Google News

















