TABLOIDELEMEN.com – Gelombang kepedulian terus mengalir bagi warga terdampak tanah longsor dan banjir bandang di Desa Kutabawa, Desa Serang, dan Desa Sangkanayu.
Berbagai elemen masyarakat bergerak serentak mengirimkan bantuan logistik guna meringankan penderitaan para penyintas bencana hidrometeorologi yang menerjang wilayah tersebut pada 23–24 Januari 2026 lalu.
Ketua Kwarran Padamara, Siti Kotijah, memimpin langsung aksi kemanusiaan dari unsur Gerakan Pramuka, Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), dan PGRI Kecamatan Padamara.
Pihaknya menyerahkan dukungan berupa uang tunai serta kebutuhan bahan pokok untuk memenuhi kebutuhan harian para korban.
“Kami mewakili Gerakan Pramuka Kwarran, KKKS, dan PGRI Kecamatan Padamara telah mengumpulkan dan menyalur bantuan untuk saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah,” kata Siti Kotijah, Kamis 29 Januari 2026.
Salurkan Bantuan Korban Longsor Purbalingga
Ia merinci, pihaknya menyerahkan dana sebesar Rp10 juta melalui Posko Induk Tanggap Bencana di Desa Serang.
Selain itu, pihaknya menyalurkan dana tambahan senilai Rp4.827.500 melalui Bumbung Kemanusiaan Gerakan Pramuka Kwarcab Purbalingga.
Langkah pemusatan bantuan pada satu titik ini bertujuan agar proses distribusi berlangsung merata dan mencapai sasaran yang tepat.
“Semoga bermanfaat bagi saudara-saudara kita. Tetap semangat dan tangguh,” tutur Siti memberi penguatan moral bagi para warga.
Pada kesempatan berbeda, Ketua TP PKK Kabupaten Purbalingga, Syahzani Fahmi M. Hanif, juga mengambil langkah cepat dengan mendistribusikan bantuan secara bertahap.
TP PKK memprioritaskan penyediaan barang-barang yang bersifat mendesak bagi warga di pengungsian.
“Alhamdulillah, kemarin kami dari Tim Penggerak PKK Kabupaten Purbalingga telah membuka donasi. Alhamdulillah, sebagian bantuan sudah mulai kami salurkan,” ungkap Syahzani, Senin, 26 Januari 2026.
Pihaknya menggunakan dana donasi tersebut untuk membeli sembako dan selimut sesuai kebutuhan urgen para pengungsi.
Syahzani menekankan pentingnya sinergi mengingat skala bencana ini menyentuh lebih dari seribu jiwa.
“Karena dampak bencana ini cukup besar. Tercatat lebih dari seribu jiwa terdampak. Sehingga membutuhkan perhatian dan kerja sama dari semua pihak,” kata Syahzani.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google News







