TABLOIDELEMEN.com – Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Tengah, Budi Prayitno, mengapresiasi pendirian Posko Aksi Pramuka Peduli Karya Bakti Lebaran (APPKBL) 2026 di Kwarcab Purbalingga.
Saat meninjau lokasi di Simpang Empat Walik, Selasa 17 Maret 2026, ia menyebut konsep posko tersebut memiliki keunikan tersendiri daripada wilayah lainnya.
Keunikan ini terlihat dari pengelolaan mandiri oleh Kwarcab Purbalingga yang berhasil merangkul berbagai organisasi sosial kemasyarakatan.
Sinergi lintas organisasi tersebut memperkuat pelayanan bagi para pemudik yang melintasi wilayah perbatasan Jawa Tengah.
Selain itu, kehadiran konten kreatif menjadi nilai tambah yang menarik perhatian pimpinan Pramuka Jawa Tengah tersebut.
“Yang kedua juga ada podcast, ya. Jadi ini saya kira sangat bagus dan cukup kreatif. Mudah-mudahan posko aksi ini bisa berjalan dengan baik,” tutur Budi Prayitno di sela-sela kegiatan monitoring.
Budi menekankan agar seluruh personel tetap memprioritaskan faktor keamanan selama bertugas di lapangan.
Mengingat intensitas kendaraan yang meningkat, kewaspadaan menjadi kunci utama bagi anggota Pramuka dalam menjalankan misi kemanusiaan ini.
“Tentunya tetap semangat dan berikan senyum kepada masyarakat yang membutuhkan,” tuturnya.
Ia juga meminta anggota dewasa agar terus mendampingi anggota muda selama masa pengabdian arus mudik dan balik Idulfitri 1447 Hijriah.
“Tunjukkan bahwa Gerakan Pramuka melaksanakan tugas ini dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. Selamat berbakti kepada seluruh keluarga besar Gerakan Pramuka Jawa Tengah,” pungkasnya.
Apalagi tercatat sebanyak 18 Posko Kwarran dan berbagai posko pangkalan berdiri serentak untuk melayani masyarakat.
Budi menilai sebaran posko tersebut sebagai bentuk nyata dedikasi Pramuka.
“Tadi Ketua Kwarcab Purbalingga, Tri Gunawan, melaporkan bahwa semangat pengabdian ini menyebar hingga ke tingkat Kwarran dan pangkalan,” katanya.
Bagi pemudik yang merasa lelah, Budi mempersilakan mereka untuk singgah dan memanfaatkan fasilitas yang tersedia.
“Posko ini menyediakan tempat istirahat serta kudapan untuk berbuka puasa maupun sahur,” katanya.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google Berita

















