TABLOIDELEMEN.com – Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif memperluas aksi kepedulian sosial bagi siswa kurang mampu di Kecamatan Padamara, Kamis, 27 Agustus 2026.
Usai menyerahkan 125 pasang sepatu lewat program “Sepasang Sepatu Sejuta Harapan”, Bupati Fahmi mendatangi langsung rumah dua siswa penerima bantuan.
Langkah cepat ini bertujuan memastikan kondisi hunian keluarga rentan mendapat perhatian layak.
Lokasi pertama menyasar kediaman Aqila Fariza Mufia, siswi SD Negeri 1 Bojanegara yang tinggal di rumah semipermanen bersama orang tuanya, Ridho Pangestu.
Fahmi langsung mengupayakan pemugaran hunian tersebut agar keluarga Aqila menikmati tempat tinggal yang aman.
“Nanti insya Allah akan kita program perbaikan rumah agar nanti bisa lebih nyaman, lebih baik lagi. Aqila juga lebih nyaman tidurnya nanti. Ini akan kita ajukan untuk mendapatkan perbaikan rumah. Mudah-mudahan kalau tidak tahun ini ya tahun depan,” tegas Bupati Fahmi.
Program RTLH Purbalingga Sasar Keluarga Siswa
Kunjungan berlanjut menuju rumah Hatim Aswar, siswa kelas 5 SD Negeri 1 Bojanegara anak dari Abdul Wahib.
Kondisi rumah Hatim masih berlantai plester dengan struktur bangunan semipermanen.
Bupati Fahmi memastikan pemerintah daerah menyalurkan bantuan melalui program Pemugaran Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) demi mewujudkan hunian sehat.
Selain menjanjikan pemugaran rumah, Bupati Fahmi menyerahkan paket sembako serta bantuan uang tunai guna meringankan beban ekonomi harian keluarga tersebut. “Mudah-mudahan bermanfaat,” ungkap Bupati Fahmi.
Semangat Purbalingga Gotong Royong Tekan Kemiskinan
Pemerintah Kabupaten Purbalingga terus memperluas jangkauan manfaat program sosial.
Langkah ini tidak berhenti pada bantuan peralatan sekolah saja, melainkan menyasar kesejahteraan lingkungan keluarga siswa secara menyeluruh.
Bupati Fahmi menegaskan bahwa penanganan kemiskinan memerlukan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.
Melalui gerakan Purbalingga Gotong Royong, pemerintah daerah memicu sinergi bersama demi meningkatkan taraf hidup warga secara berkelanjutan.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google Berita





















