TABLOIDELEMEN.com – Komunitas vespa Scooter Braling Club (SBC) Purbalingga menunjukkan kepedulian nyata terhadap pemulihan hunian pascabencana di lereng Gunung Slamet.
Kelompok pecinta mesin kanan ini menyalurkan bantuan material bangunan untuk mendukung pembuatan Hunian Sementara (Huntara) dan Hunian Tetap (Huntap) bagi warga terdampak tanah longsor serta banjir bandang, Minggu 1 Januari 2026.
Penyaluran bantuan ini berpusat pada Posko Darurat Bencana Gunung Malang, Kecamatan Karangreja.
SBC mengirimkan berbagai logistik strategis mulai dari material atap rumah, herbel, paku, sekop, hingga cangkul.
Selain alat pertukangan, mereka juga menyerahkan sarung tangan, drum penampung air, serta pakaian layak pakai untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi.
Ketua SBC Purbalingga, Dapong, menegaskan bahwa aksi ini bertujuan memperkuat mental para korban agar tetap optimis menjalani masa pemulihan.
Solidaritas sesama pengguna vespa menjadi motor penggerak utama dalam mengumpulkan bantuan tersebut secara swadaya.
“Kami tidak ingin warga terdampak bencana ini merasa sendiri,” kata Dapong saat menyerahkan bantuan secara simbolis.
Percepat Pembangunan Hunian Korban Bencana Alam

Ia menambahkan bahwa pemberian bantuan material bangunan merupakan langkah terukur guna mempercepat proses relokasi warga dari zona merah.
SBC berharap kontribusi ini dapat memberikan manfaat langsung dalam proses konstruksi fisik hunian yang lebih aman.
“Harapan kami dapat meringankan beban warga terdampak bencana alam di wilayah Kabupaten Purbalingga,” tambahnya.
Aksi ini merupakan tahap kedua dari rangkaian program kemanusiaan SBC.
Sebelumnya, komunitas ini telah memasok 15.000 liter atau setara tiga tangki air bersih untuk warga di Desa Kutabawa yang mengalami krisis sanitasi.
“Langkah tersebut sebagai respon cepat anak-anak vespa terhadap situasi darurat.
Berdasarkan Situational Report (Sitrep) per 29 Januari 2026, bencana ini mengakibatkan 916 jiwa terpaksa mengungsi.
Sebaran pengungsi terbanyak berada di Desa Serang, yakni 177 jiwa di Villa Serang, 204 jiwa di Villa Sambas, serta 535 jiwa menetap sementara di rumah-rumah warga.
Sementara di Desa Sangkanayu, tercatat 129 jiwa menempati Sangkanayu Hills dan kediaman kerabat.
Total kerusakan fisik mencapai 120 bangunan yang tersebar di Desa Serang, Kutabawa, dan Sangkanayu.
Rinciannya meliputi 33 unit rusak berat, 28 unit rusak sedang, dan 59 unit rusak ringan.
Bencana juga memutus akses delapan jembatan vital serta menimbun ratusan hektare lahan pertanian produktif.
Secara terpisah, Bupati Purbalingga, Fahmi M. Hanif, terus mematangkan rencana relokasi bersama pemerintah desa dan tokoh masyarakat.
Fokus utama pemerintah saat ini adalah memindahkan warga dari titik rawan guna menghindari jatuhnya korban jika bencana susulan terjadi.
“Lahan untuk Huntara dan Huntap sedang dicarikan, dan kebutuhan luasannya tengah kami hitung,” tutur Bupati Purbalingga mengenai progres penanganan terkini.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google News







