TABLOIDELEMEN.com – Industri makanan dan minuman memasuki babak baru pada awal tahun 2026 dengan pergeseran selera konsumen yang sangat signifikan.
Tren pasar menunjukkan bahwa masyarakat kini lebih selektif dalam memilih asupan yang masuk ke tubuh mereka.
Kuliner berbasis nabati (plant-based) dan makanan fungsional yang mendukung kesehatan mental menjadi primadona.
Kemungkinan akan bisa menguasai etalase restoran hingga gerai makanan cepat saji di berbagai kota besar.
Lonjakan minat terhadap menu ramah lingkungan ini bermula dari kesadaran publik mengenai dampak emisi karbon dari industri peternakan.
Para koki kreatif merespons situasi tersebut dengan menciptakan inovasi rasa yang menyerupai daging asli
Namun sepenuhnya menggunakan bahan dasar jamur, kacang-kacangan, dan protein kacang polong.
Selain itu, penggunaan bahan-bahan lokal seperti talas dan ubi ungu sebagai pengganti tepung terigu semakin popular.
Karena menawarkan indeks glikemik yang lebih rendah bagi penderita diabetes.
Beriringan dengan tren kesehatan fisik, minuman adaptogenik yang mengandung bahan-bahan seperti ashwagandha dan jamur reishi turut melejit di kalangan pekerja urban.
Minuman ini menjanjikan efek relaksasi dan peningkatan fokus tanpa kafein berlebih, sehingga menjadi pilihan utama untuk menemani aktivitas kerja yang padat.
Proses fermentasi tradisional seperti kombucha dan kefir juga kembali naik daun karena masyarakat semakin memahami peran penting kesehatan usus terhadap sistem imunitas tubuh secara keseluruhan.
Transformasi ini tidak hanya terjadi pada jenis makanannya, tetapi juga pada cara penyajian yang mengedepankan transparansi informasi nutrisi.
Konsumen sekarang terbiasa memindai kode QR pada menu untuk melihat jejak karbon serta rincian kalori secara akurat.
Melalui adopsi teknologi dan kesadaran kesehatan yang tinggi, dunia kuliner 2026 membuktikan bahwa rasa lezat tetap bisa bersanding selaras dengan gaya hidup berkelanjutan.
Hal ini memberikan sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi kreatif yang lebih hijau dan bertanggung jawab di masa depan.

Awali dengan kepedulian, niscaya akan menjadi gagasan dalam menulis
















