Roti Bakar Arang Markus, Bukti Kenangan Penuh Kesetiaan

Markus Widianto sedang meracik roti bakar menggunakan arang, sebuah kenangan melalui kepulan asap tipis yang membawa aroma gandum terbakar.
Markus Widianto sedang meracik roti bakar menggunakan arang, sebuah kenangan melalui kepulan asap tipis yang membawa aroma gandum terbakar.

TABLOIDELEMEN.com – Deru mesin kendaraan yang memadati Jalan Letjen S. Parman, Purbalingga, seolah meredup saat Markus Widianto membuka pintu bagasi mobilnya.

Di depan kantor Dinas Pertanian, pria berusia 65 tahun ini tidak hanya menyiapkan dagangan.

Ia Markus Widianto sedang meracik sebuah kenangan melalui kepulan asap tipis yang membawa aroma gandum terbakar.

Udara sore yang sejuk seketika berubah hangat saat ia menyulut tumpukan arang kayu hingga membara kemerahan.

Di tengah gempuran kuliner modern yang serba cepat, Markus memilih untuk tetap setia pada tradisi.

Bacaan Lainnya
Promo Cleo 1 Liter

Saat pedagang lain beralih menggunakan wajan datar atau teppan modern, warga Kandanggampang ini justru membiarkan lembaran roti bersentuhan langsung dengan panas bara api.

Bukti Kenangan Penuh Kesetiaan

Lapak Roti Bakar Arang Markus yang berada di jalan Letjen S. Parman, depan kantor Dinas Pertanian Purbalingga
Lapak Roti Bakar Arang Markus yang berada di jalan Letjen S. Parman, depan kantor Dinas Pertanian Purbalingga

Metode tradisional ini menciptakan keajaiban tekstur yang sulit tertandingi oleh pemanggang listrik atau gas.

Bagian luar roti muncul dengan warna cokelat keemasan yang garing, namun tetap menjaga kelembutan serat pada bagian dalamnya.

“Saya memilih arang karena aroma smoky yang dihasilkan sangat kuat dan unik,” ujar Markus dengan penuh semangat sambil membolak-balik roti.

Proses pembakaran yang saksama memastikan roti tidak menjadi basah atau berminyak, memberikan sensasi gigitan yang bersih dan otentik.

Markus menawarkan varian rasa yang beragam, mulai dari cokelat klasik, keju, dan susu, hingga selai nanas serta kacang yang gurih.

Cita rasa premium ini ternyata tetap ramah di kantong, karena Markus mematok harga hanya Rp5.000 per porsi untuk semua kalangan.

Setiap hari, ia melayani pembeli mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB.

Namun, selama bulan Ramadan, ia mengubah jadwalnya menjadi pukul 15.00 hingga bedug Magrib tiba.

Bagi warga Purbalingga yang berburu takjil, Roti Bakar Arang ini bukan sekadar camilan.

Mobil tua milik Markus telah menjadi destinasi wajib untuk menutup hari dengan kehangatan yang sederhana namun meninggalkan kesan mendalam di lidah.

 

 

Pos terkait