Pesona Wotawati, Desa Wisata Lembah Bengawan Solo Purba Punya Fenomena Matahari Singkat di Gunungkidul

Wotawati, sebuah dusun di Kelurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, menyimpan keunikan yang jarang ada pada tempat lain.
Wotawati, sebuah dusun di Kelurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, menyimpan keunikan yang jarang ada pada tempat lain.

TABLOIDELEMEN.com – Yogyakarta menawarkan satu destinasi wisata baru yang menjanjikan ketenangan serta nostalgia.

Wotawati, sebuah dusun di Kelurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, menyimpan keunikan yang jarang ada pada tempat lain.

Berjarak sekitar 74 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta, perjalanan darat menuju lokasi ini memakan waktu kurang lebih dua jam.

Dusun terpencil ini tersohor karena fenomena matahari singkat.

Sinar surya muncul lebih lambat daripada wilayah lain, yakni sekitar pukul 08.00 pagi, dan menghilang lebih cepat pada pukul 15.00 sore.

Bacaan Lainnya
Kartini 21 April 2026

Bahkan, saat momen tertentu, matahari baru menampakkan diri pukul 10.00 pagi.

Kondisi tersebut tercipta karena letak Wotawati berada tepat di lembah bekas aliran sungai Bengawan Solo Purba dengan apitan dua gunung karst menjulang tinggi.

Alhasil, penduduk hanya merasakan hangat matahari selama tujuh hingga delapan jam sehari.

Selain fenomena alamnya, Wotawati menyuguhkan nuansa pedesaan layaknya film kolosal bertema kerajaan.

Arsitektur rumah hunian masyarakat kental akan akulturasi gaya Majapahit dan Mataram.

Warga menggunakan bata merah sebagai material utama bangunan.

Rumah-rumah tersebut memiliki ciri khas Gunungkidul berupa Gapura Lar Badak.

Bagian depan bangunan tampak selaras dengan pagar terakota bata merah.

Sementara keunikan lain terletak pada posisi dapur yang semuanya menghadap ke arah timur.

Warisan leluhur yang tetap lestari hingga kini adalah akses jalan penghubung antar-rumah yang menyerupai labirin.

Dahulu, masyarakat memfungsikan jalur tersebut guna mencegah banjir, namun saat ini kegunaannya beralih menjadi saluran drainase yang rapi.

Lembah Bengawan Solo Purba

Sejarah dusun ini bermula dari cerita rakyat setempat mengenai pelarian asal Kerajaan Majapahit, yakni Raden Joko Sukmo dan Nyi Arum Sukmawati.

Saat mencari lahan bercocok tanam, mereka menyeberangi sungai melalui jembatan bambu.

Dalam bahasa Jawa, jembatan bermakna wot. Konon, saat menyeberang, Nyi Arum Sukmawati terpeleset namun Raden Joko Sukmo berhasil menolongnya.

Peristiwa tersebut melahirkan nama Wotawati, yang berarti “wot yang Sukmawati seberangi.”

Merujuk data Universitas Negeri Yogyakarta, dusun berusia dua abad ini hanya memiliki penghuni sebanyak 575 jiwa.

Hubungan kekerabatan masyarakat setempat terjalin sangat erat serta menjunjung tinggi nilai kekeluargaan.

Kesederhanaan dan kehangatan penduduknya menjadikan Wotawati tempat pelarian sempurna dari hiruk-pikuk perkotaan.

 

 

 

Pos terkait

Kartini 21 April 2026