Pesona Wisata Ritual Budaya Kompleks Pesarean Gunung Kawi Malang

Destinasi unik Pesarean Gunung Kawi menawarkan objek wisata ritual berupa tradisi ziarah ke makam leluhur, yaitu Eyang Jugo dan Raden Mas Iman Soedjono.
Destinasi unik Pesarean Gunung Kawi menawarkan objek wisata ritual berupa tradisi ziarah ke makam leluhur, yaitu Eyang Jugo dan Raden Mas Iman Soedjono.

TABLOIDELEMEN.com – Kabupaten Malang di Jawa Timur menyimpan kekayaan wisata religi yang sangat tersohor, salah satunya Desa Wisata Pesarean Gunung Kawi yang terletak di Desa Wonosari.

Destinasi unik ini menawarkan objek wisata ritual berupa tradisi ziarah ke makam leluhur, yaitu Eyang Jugo dan Raden Mas Iman Soedjono.

Merangkum artikel dalam laman niagatour, wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini tidak sekadar melakukan ziarah makam, melainkan juga dapat mengagumi kemegahan arsitektur bangunan tempat ibadah yang berdiri megah di sekitarnya.

Wilayah pesarean ini memiliki fasilitas ibadah yang sangat lengkap

Seperti masjid dengan gaya arsitektur khas Kesultanan Demak, Klenteng Dewi Kwan Im, tempat peribadatan Tie Kong, hingga fasilitas ramalan tradisional Ciamsi.

Bacaan Lainnya
Milo

Keberadaan area pertokoan di sepanjang jalur wisata turut mencerminkan keragaman etnis dan budaya yang hidup berdampingan secara harmonis di Desa Wisata Pesarean Gunung Kawi.

Fenomena toleransi kultural tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung domestik maupun mancanegara.

Pada momentum atau waktu tertentu, pihak pengelola wilayah sering mengadakan pagelaran seni pertunjukan.

Misalnya wayang kulit, seni musik karawitan, serta pementasan tari-tarian tradisional Jawa.

Selain menyaksikan kekayaan budaya, para pengunjung dapat menikmati kesegaran udara pegunungan serta kekayaan alam yang asri di sekitar Gunung Kawi.

Aktivitas wisata terasa semakin lengkap dengan mencicipi kuliner khas setempat seperti hidangan umbi-umbian, kacang rebus, dan seduhan kopi lokal yang nikmat.

Bagi masyarakat atau pelancong yang sedang menikmati masa liburan di Malang dan mencari destinasi wisata dengan atmosfer berbeda, Pesarean Gunung Kawi merupakan pilihan yang tepat.

Tempat ini menyuguhkan pengalaman wisata bersejarah yang sarat akan nuansa semi mistis.

Mengingat fungsinya sebagai tempat berziarah dan memohon keberkahan, aroma harum dari kemenyan

Serta dupa senantiasa merebak di udara saat orang-orang sedang khusyuk memanjatkan doa kepada Sang Pencipta.

Catatan sejarah mencatat bahwa keberadaan Pesarean Gunung Kawi bermula dari kisah perjuangan dua sahabat karib yang merupakan pengawal setia Pangeran Diponegoro.

Pasca penangkapan Pangeran Diponegoro akibat tipu daya militer Belanda, salah satu sahabatnya yang bernama Eyang Jugo memilih untuk mengembara ke arah timur Pulau Jawa.

Pesona Wisata Ritual Budaya Gunung Kawi

Langkah tersebut menjadi awal baru bagi perjuangannya, sebab Eyang Jugo melanjutkan perlawanan melalui jalur dakwah serta syiar agama Islam secara damai.

Saat menginjakkan kaki di kawasan Kesamben, ia memutuskan untuk beristirahat di sebuah area persawahan yang tenang.

Ketika tengah beristirahat, ia mendengar kabar mengenai serangan wabah penyakit misterius yang melanda desa tersebut.

Eyang Jugo yang terkenal memiliki karomah atau kemampuan supranatural dalam menyembuhkan penyakit kemudian berhasil menolong dan menyelamatkan sebagian besar warga desa dari maut.

Sebagai bentuk rasa terima kasih atas jasa besarnya, masyarakat setempat menghadiahi sebidang tanah persawahan yang luas serta memohon agar ia sudi menetap di sana.

Akhirnya, Eyang Jugo memilih untuk tinggal dan mendirikan sebuah padepokan sebagai pusat syiar agama.

Tidak lama setelah itu, kawan seperjuangan masa lalunya yang bernama Raden Mas Iman Soedjono menyusul ke tempat tersebut guna membantu mengelola padepokan.

Iman Soedjono sendiri merupakan sosok keturunan ningrat dari silsilah Sultan Hamengkubuwono I yang memilih menanggalkan status bangsawan demi meneruskan perjuangan melawan penjajah Belanda.

Setelah sekian lama menetap di Kesamben, Raden Mas Iman Soedjono memperoleh amanah untuk pindah ke wilayah Malang guna membuka sebuah pasarean baru di dekat kaki Gunung Kawi.

Pasca wafatnya kedua tokoh pejuang tersebut, kompleks makam mereka tumbuh menjadi pusat ziarah yang sangat populer bagi kalangan masyarakat luas yang ingin mencari keberkahan hidup.

Selain kompleks makam utama kedua tokoh, para peziarah biasanya mengunjungi lima titik sakral lainnya yang berada di area sekitar.

Tempat-tempat tersebut meliputi bangunan Rumah Padepokan Raden Mas Iman Soedjono

Lalu dua buah guci kuno berisi air suci bernama ‘janjam’ peninggalan Mbah Jugo, Situs Pemandian Sumber Manggis dan Sumber Urip, serta Pohon Dewa Daru yang sangat melegenda.

Kompleks Pesarean Gunung Kawi Malang

Kompleks makam keramat ini beralamat di Jalan Pesarean, RT.09/RW.05, Sumbersari, Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Mengingat jaraknya yang cukup jauh dari pusat pemerintahan Kota Malang, para pelancong membutuhkan waktu perjalanan yang relatif lama.

Kendati demikian, rasa lelah selama perjalanan akan segera sirna saat mata memandang keindahan panorama alam hijau di sepanjang lereng Gunung Kawi.

Kawasan wisata religi ini juga memiliki lokasi yang sangat strategis karena berdekatan dengan destinasi wisata alam lainnya

Seperti Pemandian Selo Agung, Kolam Renang Umbulan, Puncak Bukit Seni, serta Alun-Alun Sanggrahan Ampelgading.

Wisatawan yang enggan menyetir kendaraan pribadi menerobos jalur pegunungan dapat memanfaatkan opsi layanan sewa mobil Malang dari Niagatour demi kenyamanan perjalanan.

Rute perjalanan menuju lokasi makam dapat bermula dari pusat Kota Malang dengan menempuh jarak sekitar 30 kilometer, serta membutuhkan estimasi waktu berkendara selama satu jam saja.

Pengendara dapat mengarahkan kendaraan menuju Jalan J.A. Suprapto 1 ke arah jalur utama Gempol – Raya Malang atau Jalan Jaksa Agung Suprapto.

Setelah itu, ikuti terus jalan raya yang menuju ke arah Lawang hingga masuk ke jalan utama Surabaya – Malang.

Langkah berikutnya, pengendara mengambil rute melewati Jalan Arif Margono dan Jalan S. Supriadi menuju ke arah Jalan Klayatan Gang 3 di wilayah Bandungrejosari.

Dari titik tersebut, perjalanan berlanjut melintasi Jalan Pelabuhan Ketapang, Jalan Raya Sidorahayu, Jalan Parangargo, Jalan Raya Gondowangi

Kemudian menyusuri Jalan Pinus yang langsung terhubung ke Jalan Pesarean di Sumbersari.

Jalur tersebut akan mengantarkan para pengendara tepat di depan gerbang utama tempat wisata.

Mengenai kebijakan tarif, pengelola sama sekali tidak memungut biaya tiket masuk alias gratis bagi seluruh pengunjung.

Hal tersebut karena kompleks pesarean ini pada hakikatnya merupakan tempat ibadah dan ziarah makam.

Sehingga siapa pun memperoleh kebebasan untuk hadir mendoakan para sahabat Pangeran Diponegoro tersebut.

Meski gratis, pihak pengelola mengatur waktu kunjungan ziarah ke dalam tiga jadwal atau kloter utama setiap harinya demi menjaga ketertiban.

Sesi atau kloter pertama berlangsung mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 10.30 WIB.

Selanjutnya, kloter kedua berlanjut pada siang hari, tepatnya pukul 13.30 WIB hingga pukul 15.30 WIB.

Terakhir, kloter ketiga berjalan pada malam hari, mulai pukul 19.30 WIB hingga tutup pada pukul 21.30 WIB.

Pengelola membuka kompleks pasarean ini setiap hari tanpa libur, sehingga para peziarah dapat menjadwalkan kedatangan kapan saja.

Terkait sarana penunjang, kawasan pesarean ini menyediakan berbagai fasilitas umum yang sangat memadai guna menjamin kenyamanan para pengunjung

Meliputi toilet bersih, mushola, area parkir kendaraan yang luas, ruang khusus untuk berdoa, hingga bangunan pendopo untuk beristirahat.

Pos terkait

Milo