TABLOIDELEMEN.com – Pawonan atau memasak menggunakan tungku kayu bakar, menjadi inspirasi warga RT 5 RW 01 Desa Babakan untuk menjaga kearifan lokal dan pelestarian budaya.
Para ibu sengaja memilih pawon tungku kayu sebagai media memasak, bukannya kompor gas yang bertujuan membudayakan dan melestarikan keberadaan pawon agar tidak hilang tergilas modernitas.
Acara Pawonan Ngebul yang terselanggara di komplek UMKM Janggleng Kulineran Babakan ini mengingatkan para ibu pada kenangan masa kecil saat bermain masak-memasak di tungku sederhana.
“Dulu waktu kita kecil, sering bermain masak-memasak. Pakai pawon dari bata atau batu dengan dahan-dahan pohon yang kering. Ini semacam nostalgia apa ya. Sekaligus melestarikan keberadaan pawon,” kata Pujiati, Minggu 14 Desember 2025.
Untuk menunya lanjut Pujiati, para ibu membuat Jangan Gandul (sayur pepaya muda), karena tak perlu membeli, cukup memetik papaya, baik yang muda atau yang sudah matang di pekarangan rumah.
“Pepaya muda kita olah menjadi sayuran pedas. Daun pepayanya juga kita rebus untuk cowel sambal. Buah pepaya yang matang juga kita sajikan. Semuanya berbahan baku buah pepaya,” katanya.
Menjaga Tradisi Memasak dengan Tungku Kayu Bakar
Sementara seorang ibu yang lainnya, Hartin Riyani mengatakan, sebenarnya para ibu ini sudah sering berkumpul dan memasak bersama dengan menggunakan pawon.
“Pawonan ini sebenarnya sudah berlangsung rutin. Kadang sebulan sekali atau dua bulan sekali. Tempatnya berpindah-pindah,” katanya.
Hartin menjelaskan, kegiatan yang menonjolkan semangat kekompakan warga agar akan tradisi lokal ini terus hidup dan berkembang ternyata mendapat atensi dari warga lama yang kini berdomisili di Jakarta.
“Biasanya kami selenggarakan acara ini secara swadaya. Tetapi kali ini ada dukungan pendanaan dari Mbak Henny. Dulu teman sepermainan, kini berdomisili di Jakarta,” katanya
Sementara seorang warga, Adi Purwanto mengatakan, kegiatan ini untuk memancing masyarakat yang lebih luas bahwa tradisi pawonan itu masih ada dan merupakan tradisi budaya yang harus dilestarikan.
“Anak cucu kita sudah tidak tahu apa arti kata pawon. Jadi mendengar saja heran, apalagi melihat bentuknya,” katanya.
“Sehingga ini mudah-mudahan kegiatan ini bisa menjalar ke seluruh masyarakat Purbalingga untuk terus melestarikan tradisi pawonan ini,” imbuhnya.
Ia juga berharap untuk Pawonan Ngebul ini akan terus berlanjut. Karena, kegiatan pada saat ini belum melibatkan banyak anak-anak muda atau milenial.
“Tujuannya supaya mereka bisa melihat dan mengenal lebih dekat, oh iya orang-orang tua itu kita seperti itu, dulu kalau memasak pakai pawon, pakai kayu bakar,” katanya.
Untuk menu dalam Pawonam Ngebul, Adi Purwanto yang juga Sekretaris Dinkop UKM Purbalingga berharap nantinya bisa menyuguhkan menu-menu makanan tidak harus yang tradisional.
“Jadi nanti kita sudah siapkan menu-menu kreatif yang kekinian. Tetapi memasaknya tetap harus menggunakan pawon. Jadi kita sudah ada konsepnya, terkait dengan menu-menu atau produk yang akan kita mainkan di pawon ini,” tuturnya.

Menulis itu tentang mau atau tidak. Saya meyakini hambatan menulis bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena merasa tidak bisa menulis dengan baik
Baca update artikel lainnya di Google News

















